SUARA CIREBON – Ramadan di Masjid Nurul Ikhsan, Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon kembali menghadirkan satu tradisi yang telah berlangsung selama lima tahun belakangan, yakni salat tarawih terlama di wilayah tesebut.
Di Masjid Nurul Ikhsan, tarawih bukan sekadar ibadah sunah selepas Isya. Di tempat ini, tarawih menjadi perjalanan spiritual yang bisa berlangsung hingga tiga jam. Setiap malam, tiga juz Al-qur’an dilantunkan, rakaat demi rakaat dijalani dengan tartil dan penuh tumakninah.
Bagi sebagian orang, tarawih tiga jam mungkin terdengar melelahkan. Namun bagi warga Jagapura Wetan, durasi bukanlah beban, karena telah menjadi bagian dari identitas Ramadan di kampung mereka.
Di Masjid ini, salat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat. Pihak Masjid menyiapkan lima Imam sekaligus yang bertugas secara bergantian guna menjaga kekuatan dan kualitas bacaan. Mereka adalah para santri dan kiai penghafal Al-qur’an (hafidz) yang telah terbiasa melantunkan ayat suci dalam durasi panjang.
Pendiri Masjid, Ikhsan Abdullah, menyampaikan, tradisi tarawih berdurasi panjang ini telah berjalan sekitar lima tahun terakhir. Ia menjelaskan, konsep tersebut bukan semata-mata keputusan pengurus, melainkan lahir dari aspirasi jemaah.
Surat-surat panjang dibacakan dengan tartil dan tidak terburu-buru. Hal itu, mengingat sebagian besar jemaah sudah berusia lanjut.
“Kalau dibaca cepat justru mereka tertinggal. Jadi ini atas permintaan jemaah sendiri,” kata Ikhsan.
Menurut Ikhsan, tujuan utama bukanlah mengejar panjangnya durasi, melainkan menghadirkan kualitas ibadah. Setiap gerakan dilakukan dengan tumakninah, setiap ayat diberi ruang untuk dihayati.
Meskipun mayoritas jemaah berasal dari kalangan sepuh, namun tak ada keluhan yang terdengar. Dari mereka, yang tampak justru kesabaran dan ketekunan.
Salah seorang jemaah, Mustofa, mengaku sudah terbiasa mengikuti tarawih panjang di masjid tersebut.
“Salat tarawih di Masjid Nurul Ikhsan ini dikenal sebagai salat tarawih terlama. Karena di sini bacaan Al-qur’annya bisa sampai tiga juz setiap malam,” ujar Mustofa, Kamis, 26 Februari 2026.
Durasi panjang memang menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah lanjut usia. Para jemaah sepuh tentu ada yang merasakan lelah. Namun hal itu justru bisa menambah kekhusyukan.
“Saat jeda sebentar untuk duduk atau istirahat, rasanya seperti memberi waktu untuk merenungi ayat-ayat yang tadi dibaca,” jelasnya.
Di tengah dunia yang serba cepat, tarawih di Masjid Nurul Ikhsan justru memilih berjalan pelan. Menikmati setiap huruf, setiap makna, setiap sujud yang lebih lama dari biasanya.
Dan ketika salam terakhir terucap mendekati tengah malam, wajah-wajah lelah itu pun memancarkan ketenangan. Bagi mereka, tiga jam bukan sekadar waktu yang dihabiskan di Masjid, melainkan waktu yang dipersembahkan sepenuhnya untuk Allah SWT.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.