SUARA CIREBON – Seorang siswi SMA Negeri 1 Jamblang, Kabupaten Cirebon, dilarikan ke rumah sakit karena mengalami mual dan muntah-muntah setelah memakan roti dari menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima di sekolahnya, Selasa, 10 Maret 2026 malam.
Kepala SMAN 1 Jamblang, Indra Gunawan, menjelaskan, pihak sekolah mendapatkan kabar adanya siswi yang mengalami mual dan muntah-muntah setelah mengonsumsi roti dari menu MBG, setelah salat Tarawih.
“Setelah tarawih, kami mendapat kabar ada siswi kami yang mengalami mual dan muntah-muntah setelah mengonsumsi roti dari MBG yang diterimanya,” kata Indra Gunawan, saat ditemui di sekolahnya, Rabu, 11 Maret 2026.
Indra mengatakan, roti dari MBG yang diterima siswa siswinya dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memang tidak ada merek dan juga tanggal kedaluwarsa (expired)-nya.
“Jadi anak itu mengonsumsi roti dari MBG pada saat buka puasa di rumah, kemudian langsung mengalami mual dan muntah-muntah, sehingga orang tua si anak sehingga langsung dibawa ke IGD Rumah Sakit Pasar Minggu untuk mendapatkan perawatan medis,” ujarnya.
Begitu mendapatkan kabar, dirinya langsung meminta wali kelas sang siswi untuk menghubungi pihak keluarga menanyakan kondisi siswi tersebut.
”Saya bersama beberapa guru tadi (kemarin, red) pagi berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk siswi tersebut. Menurut informasi, gejala mual dan muntah-muntah itu diduga disebabkan adanya bakteri dari makanan,” katanya.
Menurut Indra, hingga kini siswa tersebut masih berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
“Karena memang baru masuk ke rumah sakit tadi malam (Selasa malam, red). Kalau anaknya sih inginnya hari ini masuk sekolah, tetapi belum diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, masih harus observasi,” ujarnya.
Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak SPPG untuk bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah terjadi.
”Kami meminta kepada pihak SPPG supaya ke depan bisa lebih teliti kembali dalam memilih makanan yang akan dibagikan, seperti roti kalau bisa harus ada tanggal expired dan mereknya, jadi tahu kapan roti tersebut expired. Kalau rotinya masih seperti itu pihak sekolah akan menolak,” tandasnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terpisah, Kepala SPPG Bakung Lor, Olander, mengatakan, mekanisme pengolahan dan distribusi makanan kepada siswa telah melalui sejumlah tahapan pemeriksaan sebelum makanan dibagikan.
“Setiap bahan makanan yang dipesan dari pemasok terlebih dahulu diperiksa saat tiba di dapur untuk memastikan kelayakan dan kualitasnya,” kata Olander.
Bahan makanan yang datang, menurutnya, tidak langsung dimasak dan didistribusikan. Begitu juga seluruh bahan bumbu yang digunakan, lebih dulu dilakukan pengecekan untuk memastikan kondisinya masih baik dan layak konsumsi.
”Setiap bahan yang datang dari supplier kami periksa terlebih dahulu di dapur oleh Asisten Lapangan dan Ahli Gizinya, bahkan bumbunya juga kami cek sebelum dimasak dan didistribusikan kepada para siswa,” ujar Olander.
Olander menyebut, proses pemesanan bahan makanan biasanya dilakukan pada siang hari untuk memenuhi kebutuhan penyajian makanan pada hari berikutnya. Adanya kejadian ini, diakuinya memang kesalahan pihak SPPG.
”Kami sudah menjenguk siswi yang mengalami mual dan muntah-muntah serta menjelaskan kepada pihak keluarganya bagaimana mekanisme pengolahan di SPPG,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.