SUARA CIREBON – Sisa-sisa infrastruktur bersejarah berupa rel kereta api peninggalan zaman kolonial Belanda yang selama ini tertanam di kawasan Kalibaru, Kota Cirebon, mulai dibongkar, Jumat, 3 April 2026.
Pembongkaran jalur rel kereta api itu menarik perhatian warga sekitar dan pengguna jalan, mengingat jalur tersebut merupakan bagian dari memori kolektif transportasi masa lalu di wilayah pesisir Cirebon.
Pantauan di lapangan, proses pembongkaran dilakukan dengan mencopot batang-batang rel yang sudah tua dari bantalannya.
Material rel yang dibongkar umumnya sudah berkarat dan tertimbun tanah atau aspal selama puluhan tahun. Langkah ini disinyalir merupakan bagian dari penataan kawasan Sungai Sukalila.
Pemerhati budaya dari Keraton Kacirebonan, Elang Iyan Ariffudin menilai, pembongkaran jalur rel kereta api peninggalan Belanda di kawasan tersebut, tidak menghargai jejak sejarah. Pasalnya, pembongkaran dilakukan dengan cara dipotong-potong oleh pekerja.
“Padahal jika dibongkar secara utuh, besi bekas rel kereta api itu bisa menjadi benda cagar budaya,” kata Elang Iyan, saat melihat langsung pembongkaran besi bekas rel kereta api di Kawasan Sungai Sukalila, Jumat, 3 April 2026.
Menurutnya, besi bekas rel kereta api itu merupakan saksi sejarah perkembangan transportasi di Kota Cirebon.
Iyan menuturkan, jalur rel di Kalibaru ini dulunya merupakan urat nadi transportasi logistik, terutama untuk mengangkut hasil bumi dan komoditas dari pelabuhan.
Keberadaannya menjadi bukti autentik kejayaan jalur kereta api di Cirebon pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
“Pembongkaran ini menandai berakhirnya keberadaan fisik saksi bisu sejarah transportasi di kawasan tersebut, meski nilai sejarahnya diharapkan tetap terekam dalam dokumentasi kota,” katanya.
Iyan menceritakan, sebelum terkenal sebagai wilayah Kalibaru, lokasi ini dulu terkenal dengan nama Pakootookan atau orang Cirebon mengucapkan dengan nama Peklutukan. Pakootookan adalah sub-nomor urut 101 di wilayah division Cheribon dalam administrasi kolonial Inggris pada 1815-1816.
Pada awal abad ke-20, Jalan Peklutukan menjadi jalur penting yang menghubungkan berbagai kawasan, mulai dari Kesenden hingga jembatan Kalianyar. Di sepanjang jalur tersebut terdapat permukiman warga seperti Kebonbenteng, Kemlaten, hingga Kebonbaru, sementara sisi lainnya masih berupa area persawahan.
Ia menambahkan, di kawasan itu juga pernah berdiri fasilitas penting seperti pabrik gas (Gaspabriek) dan rumah sakit pribumi yang kini menjadi Polres Cirebon Kota. Selain itu, terdapat pula Pasar Ikan (Vischpasar) dan galangan kapal (Scheepstimmerwerf) yang menandai aktivitas ekonomi pesisir pada masa itu.
“JalanPeklutukan berubah nama menjadi Jalan Kapten Samadikun, untuk mengabadikan tokoh pejuang kemerdekaan yang gugur dalam pertempuran laut di perairan Cirebon,” jelasnya.
Menurutnya, jika bekas besi rel itu tidak dibongkar, maka bisa menjadi salah satu cagar budaya di Cirebon yang perlu dilestarikan. Agar generasi penerus mengetahui bahwa kawasan Sukalila memiliki sejarah perkembangan Kota Cirebon di masa lalu sampai saat ini.
Dengan dibongkarnya rel-rel tersebut, diharapkan, menghilangkan gundukan atau sisa rel yang seringkali membuat permukaan jalan tidak rata. Kawasan Kalibaru diharapkan menjadi lebih rapi dan tertata pasca pembersihan material tua.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.