DEPOK, SC- Ambruknya rumah bersubsidi di Perumahan Taman Pelangi 2, RT 05 RW 03 Desa Kejuden, Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon menjadi perhatian anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriani Gantina. Kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi terkait standarisasi rumah bersubsidi untuk masyarakat menengah ke bawah.

Saat mengetahui berita ambruknya rumah bersubsidi tersebut, Selly mengaku terkejut. Pasalnya, rumah tersebut diketahui belum lama dibangun yakni baru sekira lima tahun lalu.

“Seharusnya program subsidi ini kan bisa memberi kesejahteraan dan kenyamanan untuk rakyatnya. Tapi ternyata baru menjelang lima tahun, belum apa-apa, baru kena hujan saja rumahnya sudah langsung ambruk,” ujar Selly usai memberi bantuan bersama Kepala pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Dadang Suhendra yang juga memberi bantuan logistik untuk tiga korban, Minggu (26/1).

BACA JUGA: Target Jadi Tuan Rumah Porda 2022

Menurutnya, kejadian tersebut kini menjadi perhatian khusus dirinya untuk melakukan evaluasi terkait standarisasi rumah bersubsidi untuk masyarakat menengah kebawah. Selain itu, juga akan menjadi bahan investigasi dirinya terkait penyebab ambruknya rumah tersebut.

“Apakah ada pergerakan tanah atau memang karena konstruksi bangunannya,” tegas Selly.

Namun demikian, Selly mengaku bersyukur karena tahun ini Kabupaten Cirebon tidak “ulang tahun” bencana. Dia hanya merasa aneh karena bencana banjir maupun angin kencang justru terjadi di Kabupaten Cirebon bagian tengah.

“Alhamdulillah Kabupaten Cirebon saat ini tidak mengalami ulang tahun bencana kembali. Tetapi memang agak anehnya bencana banjir maupun angin kencang adanya di wilayah Cirebon bagian tengah,” kata Selly.

Sebelumnya, hujan lebat disertai angin kencang pada Jumat sore (24/1) sekira pukul 16.00 menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Kabupaten Cirebon. Pasalnya, dalam peristiwa tersebut sedikitnya tiga rumah terdampak oleh hujan lebat disertai angin kencang.

Salahsatu rumah milik Muhammad Syahri Romdhon ambruk total hingga menimpa dua rumah warga lain disampingnya milik Nono dan Heru.

BACA JUGA: Sukseskan PMB PTKIN, Kasubag Humas IAIN Cirebon: Maksimalkan Peran Humas

Menurut Muhammad Syahri Romdhon, peristiwa itu terjadi sangat cepat dan tidak diduga-duga seblumnya. Sehingga, dirinya tidak sempat menyelamatkan sejumlah barang yang ada didalamnya.

“Kejadiannya begitu cepat, tapi saat itu yang tahu persis kejadiannya adalah istri saya. Istri saya mengira ada gempa bumi karena ada suara yang cukup keras dan menganggetkan,” kata Muhammad Syhari Romdhon atau yang akrab disapa Aray itu.

Akibat ambruknya atap rumah miliknya, kata Aray, dua rumah tetangganya pun ikut tertimpa pada bagian dapur. Beruntung, kejadian tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa atau korban luka.

Pasalnya, saat peristiwa itu terjadi, sang istri sedang berada di dalam rumah di sebelahnya yang masih menjadi miliknya juga. “Rumah yang atapnya ambruk itu memang kosong. Hanya untuk menyimpan barang-barang saja. Tapi rencananya rumah itu akan ditempati orang tua saya dari Jakarta,” paparnya. (Islah)