KABUPATEN CIREBON, SC- Pelaksanaan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau New Normal di Indonesia, termasuk di Kabupaten Cirebon masih mengalami kendala.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Heryawan menyebut banyak fariabel yang membuat pelaksanaan AKB terkendala.

Menurut Netty, sejak awal pandemi Covid-19, Pemerintah memang terlambat melakukan mitigasi pandemi Covid-19 ini. Sejak awal pandemi, pemerintah menyebut Covid-19 adalah penyakit biasa dan virus biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya.

“Kemudian ditanggapi dengan candaan yang dilontarkan oleh pejabat publik yang menurut saya buying time, membuang-buang waktu tanpa bisa memformulasikan kebijakan yang tepat untuk memitigasi,” ujar Netty, Sabtu (12/9/2020).

Kedua, kata Netty, ketika pemerintah mulai memformulasikan kebijakan, ada semacam kegamangan. Hal itu terlihat ketika pemerintah memilih antara penerapan (Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan karantina wilayah. Penentuan dua keputusan tersebut memakan waktu yang cukup lama, padahal, Covis-19 sudah mewabah. “Kalau diluar negeri (pandemi Covid-19) itu (sejak) akhir desember, di kita awal maret. Bulan april itu kan kita masih ribut, PSBB apa karantina,” kata Netty.

Selain dua fariabel tersebut, Netty menilai kemampuan pemerintah dalam memenej komunikasi publik sangat lemah. Kondisi itu membuat masyarakat terfragmentasi dan kebingungan. Hal itu membuat adanya gerakan Civil Disobedience di tengah masyarakat. “Jadi masyarakat akhirnya melakukan yang kita sebut civil disobedience, pembangkangan sosial ditengah masyarakat,” papar Netty.

Terlebih, sambung dia, saat itu sudah ada wacana new normal di awal bulan Mei. Masyarakat menangkap new normal adalah kembali pada kehidupan pada masa sebelum pandemi Covid-19. “Padahal yang dimaksud adalah kita mulai melakukan adaptasi kebiasaan baru. Jadi enggak bisa lagi kita hidup seperti sebelum datangnya pandemi. Harus pakai masker, harus cuci tangan, nah itu belum dipahami oleh masyarakat,” tegasnya.

Politisi PKS itu menjelaskan, kasus terkonfirmasi positif di Indonesia saat ini sudah eskalatif. Dimana, bertambahnya kasus positif sebanyak 1000 orang tidak butuh waktu lama. Bahkan dalam satu hari kasus positif di Indonesia bisa tembus 3000. Oleh karena itu, Ia meminta masyarakat agar menyadari, bahwa pandemi Covid-19 bukan isapan jempol. Sehingga harus ada kolaborasi yang optimal antara pemerintah, masyarakat, sistem dan kapasitas kesehatan.

“Tidak mungkin kalau cuma mengandalkan kebijakan pemerintah dengan kesehatan. Tapi tidak mungkin juga hanya masyarakat, karena sudah terbukti yang jatuh sakit, yang gagal nafas harus ditangani oleh sistem dan kapasitas kesehatan kita,” tukas Netty. Begitupun dengan kapasitas kesehatan, tidak mungkin jalan sendiri tanpa adanya kebijakan pemerintah yang mengalokasikan anggaran yang memadai. (Islah)