SUARA CIREBON – Stigma sosial di masyarakat terhadap penderita penyakit kusta masih cukup kuat. Mereka kerap dijauhi dan tidak jarang sampai dimusuhi. Padahal, penyakit kusta tidak menular melalui kontak singkat dan dapat disembuhkan.
Terkait hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mengimbau masyarakat tidak menjauhi penderita kusta, tapi mendorong penderitanya untuk berobat.
Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon, Hj Eni Suhaeni, melalui Ketua Tim Kerja P2PM, Subhan, menyampaikan, kuatnya stigma sosial terhadap penderita kusta disebabkan minimnya pemahaman masyarakat tentang penyakit kusta.
Menurut Subhan, kusta bukan penyakit kutukan dan bukan penyakit turunan. Penderita kusta bisa sembuh total melalui multidrug therapy (MDT) dan obatnya tersedia di Puskesmas. Subhan menjelaskan, MDT adalah kombinasi dua atau lebih obat antimikroba yang digunakan untuk mengobati kusta guna mencegah resistensi obat.
“Kusta bisa disembuhkan total dengan MDT. Obatnya tersedia gratis di Puskesmas, dan penderita yang sudah menjalani pengobatan tidak lagi menularkan,” ujar Subhan, Rabu, 28 Januari 2026.
Ia menjelaskan, penyakit kusta atau lepra merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae. Kusta menyerang kulit, saraf tepi, mukosa saluran pernapasan atas, dan mata.
“Penularannya tidak mudah, karena membutuhkan kontak erat dan lama dengan penderita yang belum diobati,” kata Subhan.
Menurut Subhan, kusta tidak menular melalui kontak singkat seperti bersalaman, duduk bersama, atau hubungan sosial sehari-hari. Gejala kusta umumnya berupa bercak kulit putih atau kemerahan yang mati rasa, tidak gatal, dan tidak berkeringat.
Selain itu, dapat terjadi penebalan saraf tepi yang disertai nyeri, kelemahan otot, hingga berpotensi menyebabkan cacat permanen bila tidak ditangani sejak dini.
“Kami mengimbau masyarakat tidak menjauhi penderita, tetapi justru mendorong mereka untuk berobat,” tuturnya.
Data Dinkes Kabupaten Cirebon mencatat kasus kusta sepanjang 2025 mencapai 177 kasus. Dari jumlah tersebut, kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Talun dan Pangenan, masing-masing sebanyak 11 kasus.
Kemudian, di Kecamatan Losari, Gunungjati, dan Gegesik masing-masing tercatat ada 9 kasus. Disusul Kecamatan Kapetakan dan Babakan masing-masing 8 kasus, Greged dan Kecamatan Mundu dengan 7 kasus. Sejumlah kecamatan yang tercatat nol kasus di antaranya Kecamatan Kaliwedi dan Kedawung.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.