SUARA CIREBON – Produksi sampah di Kabupaten Cirebon mencapai 1.200 ton per hari. Jumlah tersebut, tidak sebanding dengan kemampuan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon yang hanya mampu mengangkut kurang dari separuh produksi sampah harian sebanyak 450 ton per hari.
Guna optimalisasi pengangkutan sampah di tengah keterbatasan fasilitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA), DLH pun membagi wilayah pelayanan pengangkutan sampah menjadi dua zona utama, yakni wilayah timur dan wilayah barat.
Sekretaris DLH Kabupaten Cirebon, Fitroh Suharyono, menjelaskan, secara sistem pengangkutan sampah sudah dibagi ke dua zona utama, yakni wilayah timur dan barat.
“Sudah dibagi, tapi kemampuan riil pengangkutan kami saat ini baru sekitar 450 ton per hari,” ujar Fitroh, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurut Fitroh, sampah di wilayah barat Kabupaten Cirebon sepenuhnya dilayani oleh TPA Gunung Santri. Dengan luas 2,5 hektare, TPA tersebut berkapasitas sekitar 400 ton per hari. Sementara di wilayah timur, dilayani oleh TPA Kubangdeleg yang memiliki luas sekitar 6 hektare dengan estimasi kapasitas 500 ton per hari.
Fitroh mengatakan, keterbatasan armada, infrastruktur, serta kapasitas TPA menyebabkan ratusan ton sampah belum tertangani setiap harinya. Sampah yang tidak terangkut ini sebagian dikelola secara mandiri oleh pihak (pemerintah) desa. Namun sebagian lainnya berpotensi tercecer dan menimbulkan persoalan lingkungan.
“Ada yang dikelola mandiri oleh desa, tapi ada juga yang berisiko mencemari lingkungan, karena masih ada sisa yang beli belum terangkut,” terangnya.
Ia menjelaskan, DLH Kabupaten Cirebon kini menyiapkan langkah strategis dengan mengajukan Program Solid Waste Management for Sustainable Urban Development ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebagai upaya untuk keluar dari persoalan klasik.
Program tersebut merupakan sistem pengelolaan sampah modern yang menitikberatkan pada pengurangan sampah dari sumbernya, peningkatan kapasitas pengolahan, serta penerapan konsep ekonomi sirkular. Pendanaan program ini didukung oleh skema anggaran internasional.
“Jika seluruh persyaratan terpenuhi, akan disetujui oleh Kementerian PU. Programnya sedang kami ajukan,” terang Fitroh.
Fitroh menambahkan, program tersebut mencakup penyusunan Feasibility Study (FS), Readiness Criteria (RC), hingga Detailed Engineering Design (DED) untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Selain itu, program ini melibatkan dukungan hibah dan kerja sama dari sejumlah lembaga internasional, di antaranya Alliance to End Plastic Waste (AEPW) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
“Program tersebut bertujuan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, ramah lingkungan, sekaligus bernilai ekonomi,” paparnya.
Jika program tersebut terealisasi, khususnya di wilayah timur Kabupaten Cirebon, akan dibangun fasilitas pengolahan sampah yang memungkinkan kerja sama dengan pihak ketiga. Ia berharap, langkah bertahap yang ditempuh ini, permasalahan sampah di Kabupaten Cirebon bisa ditangani secara lebih sistematis dan berkelanjutan.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.