SUARA CIREBON – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon menerima laporan terjadinya getaran layaknya gempa yang dirasakan masyarakat Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, pada Minggu, 19 April 2026.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon, Nuggy Pranugrah Effendi, mengatakan, merespons laporan masyarakat, pihaknya menerjunkan tim satgas guna memitigasi kebencanaan yang mungkin timbul akibat terjadinya getaran tersebut.
Menurut Nuggy, dari hasil tim yang diterjunkan di lapangan diperoleh laporan, getaran yang membuat geger warga Desa Cipanas tersebut, tidak menimbulkan kerusakan berarti, termasuk tidak adanya korban jiwa. Nuggy mengaku belum bisa memastikan munculnya getaran tersebut akibat adanya aktivitas tambang.
“Belum bisa pastikan juga itu kaitan dengan semburan gas alam yang pernah terjadi sebelumnya. Karena kita selalu melihat analisa dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan pengkajian itu menjadi ranah BMKG,” ujar Nuggy, Senin, 20 April 2026.
Hingga kini, pihaknya belum mendapat laporan resmi dari BMKG terkait karakteristik kegempaan yang terjadi di desa tersebut. BPBD sendiri hanya melakukan penanggulangan dari dampak bencana tersebut.
Kendati demikian, pihaknya mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya getaran atau gempa susulan.
“Tetap waspada kemungkinan adanya gempa susulan. Karena semua tidak bisa memprediksi terjadinya bencana tersebut,” kata Nuggy.
Ia menjelaskan, hasil monitoring BMKG Bandung mencatat adanya getaran pada Minggu, 19 April 2026 pukul 11.22 WIB melalui sensor di wilayah Pasawahan, Kuningan (PKJM). Namun, rekaman yang tertangkap tergolong sangat kecil dan tidak terekam oleh tiga sensor lain yang berada di sekitar lokasi.
Menurut Nuggy, terdapat empat sensor BMKG di wilayah sekitar Cirebon, yakni di Jatiwangi-Majalengka (JCJI), Pasawahan-Kuningan (PKJM), Astanajapura-Cirebon (ACJM), dan Pabuaran-Cirebon (PCJM).
“Berdasarkan analisis sementara (BMKG), selisih gelombang P dan S yang terekam di sensor PKJM sekitar tiga detik, sehingga sumber getaran diperkirakan berada pada jarak kurang lebih 10 kilometer dari lokasi sensor,” terangnya.
Nuggy menyampaikan, BMKG belum dapat memastikan sumber getaran tersebut. Hal ini karena hanya satu sensor yang merekam kejadian, sehingga sistem belum dapat melakukan proses analisis lebih lanjut.
“Karena hanya satu sensor yang mencatat, maka sistem tidak bisa melakukan prosesing analisa. Oleh karena itu BMKG belum bisa memastikan apakah getaran tersebut merupakan aktivitas seismik yang sangat lokal atau berasal dari sumber lain seperti geotermal maupun aktivitas gunung api,” jelasnya.
Ia meminta masyarakat tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia juga meminta masyarakat untuk mempercayai sumber resmi hanya dari BMKG.
Sebelumnya, getaran yang diduga menyerupai gempa dirasakan ratusan warga Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Minggu, 19 April 2026 sekitar pukul 11.30 WIB. Getaran tersebut terjadi secara tiba-tiba dan membuat warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Salah seorang warga, Wawan, mengungkapkan, getaran terasa cukup kuat hingga memicu kepanikan warga setempat. Ia menyebut, fenomena serupa bahkan terjadi lebih dari sekali dalam sehari.
“Warga sampai keluar rumah karena terasa seperti gempa,” ujar Wawan.
Ia mengatakan, kejadian serupa juga dirasakan warga sejak Sabtu, 18 April 2026. Namun, getaran tidak merata karena hanya dirasakan di beberapa wilayah tertentu.
“Awalnya dikira gempa besar, tapi ternyata hanya terasa di beberapa dusun saja,” ungkapnya.
Perangkat Desa Cipanas, Toyib, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebutkan getaran dirasakan di tiga wilayah, yakni Blok Beledug, Blok Karang Anyar, dan Blok Tarikolot.
“Pada hari ini terjadi dua kali getaran, masing-masing pukul 11.18 WIB dan 11.21 WIB. Getarannya bahkan terasa lebih besar dibandingkan hari sebelumnya,” paparnya.
Meski tidak menimbulkan kerugian materi, getaran yang terjadi berulang kali ini memicu rasa takut dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
“Warga berharap ada penjelasan lebih lanjut agar tidak diliputi kecemasan berkepanjangan,” tegasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.