Oleh: Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag.
Rektor UIN Siber Cirebon
RAMADAN sering dipahami sebagai bulan peningkatan ibadah personal, shalat, tilawah, sedekah, dan pengendalian diri. Namun Ramadan sejatinya juga merupakan momentum pembentukan peradaban.
Ia tidak hanya memperkuat hubungan vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga menegaskan tanggung jawab horizontal manusia terhadap sesama dan terhadap alam semesta.
Dalam Al-Qur’an, manusia ditegaskan sebagai khalifah fil ardh, pemimpin dan penjaga bumi. Amanah ini bukan sekadar metafora spiritual, melainkan mandat etis yang konkret.
Ketika hutan gundul, sungai tercemar, udara dipenuhi polusi, dan krisis iklim mengancam keberlangsungan hidup, persoalannya bukan hanya ekologis—melainkan juga teologis: di mana tanggung jawab keimanan kita?
Ekoteologi dalam Perspektif Islam
Ekoteologi bukan konsep asing dalam Islam. Ia merupakan pembacaan ajaran tauhid yang menempatkan alam sebagai bagian dari ayat-ayat Allah. Setiap ciptaan adalah tanda kebesaran-Nya. Maka merusak lingkungan berarti mengabaikan tanda-tanda tersebut.
Kerusakan lingkungan sejatinya adalah refleksi krisis moral dan spiritual manusia—krisis keserakahan, hilangnya kesadaran batas, dan melemahnya tanggung jawab sebagai khalifah. Dalam konteks ini, Ramadan menghadirkan pendidikan spiritual yang sangat relevan.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan hasrat konsumtif. Ia melatih nilai qana’ah (merasa cukup) dan zuhud (tidak berlebihan). Nilai-nilai ini menjadi fondasi gaya hidup berkelanjutan yang sangat dibutuhkan di tengah budaya konsumsi berlebihan.
Ironisnya, bulan Ramadan kerap justru diiringi lonjakan konsumsi dan produksi sampah. Meja berbuka yang berlebihan, plastik sekali pakai yang menumpuk, serta pemborosan energi menunjukkan bahwa spiritualitas belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kesadaran ekologis.
Peran UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam Gerakan Hijau
Sebagai institusi pendidikan tinggi Islam, UIN Siber Cirebon memandang integrasi keilmuan dan keislaman harus melampaui diskursus akademik. Nilai-nilai teologis perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata.
Kampus memiliki peran strategis sebagai pelopor gerakan hijau:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai
- Menghemat energi dan air
- Mengelola limbah secara bijak
- Mengintegrasikan kesadaran ekologis dalam kurikulum dan budaya akademik
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mendorong lahirnya generasi sarjana Muslim yang tidak hanya unggul secara intelektual dan profesional, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis. Generasi yang memahami bahwa merusak alam berarti mengkhianati amanah Tuhan.
Keadilan sosial dan keadilan ekologis tidak dapat dipisahkan. Kerusakan lingkungan selalu berdampak paling berat pada kelompok masyarakat rentan. Karena itu, menjaga bumi adalah bagian dari membangun keadilan.
Ramadan 1447 H: Momentum Perubahan Paradigma
Ramadan 1447 Hijriah harus menjadi momentum perubahan paradigma. Kesalehan tidak lagi diukur hanya dari intensitas ibadah personal, tetapi juga dari kontribusi terhadap keberlanjutan kehidupan.
Langkah sederhana dapat dimulai dari rumah, kampus, dan komunitas:
- Mengurangi konsumsi berlebihan
- Memilih produk ramah lingkungan
- Menanam pohon
- Menghemat air dan listrik
- Membangun budaya sadar lingkungan
Mencintai Allah berarti menjaga ciptaan-Nya. Mengabdi kepada Tuhan berarti memelihara bumi sebagai rumah bersama.
Semoga Ramadan ini melahirkan kesadaran baru bahwa spiritualitas sejati tidak pernah terpisah dari tanggung jawab ekologis. Semoga Allah SWT menerima ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang amanah dalam merawat bumi.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.