SIAPA sangka Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Fitria Pamungkaswati saat remaja pernah menjadi sinden pengiring sintren di sanggar Sekar Pandan. Saat itu dirinya masih duduk di kelas 2 SMA dan sanggar yang menjadi tempat latihannya pun masih dalam proses rintisan.

“Saat itu nama ketua sanggarnya Harry, saya menjadi sinden pengiring sintren. Bisa dikatakan saya itu adalah sinden sintren pertama di Keraton Kacirbonan atau di sanggar Sekar Pandan,” tutur politisi PDIP ini kepada Suara Cirebon di ruang kerjanya, Rabu (26/8/2020).

Walau sudah lama berlalu, namun jiwa seni itu masih tetap melekat hingga saat ini. Bahkan, saat Fitria menjadi anggota DPRD Kota Cirebon pada periode pertama,  dirinya pernah menampilkan kemampuannya ini dalam salah satu kegiatan.

BACA JUGA: IAIN Cirebon Peringkat 4 Kampus Paling Diminati di Indonesia

“Saat saya masih di komisi III di periode pertama, saya adakan pagelaran sintren. Mulai dari sindennya saya, sintren sampai ke penabuh musik juga dari anggota komisi III. Itu disuport juga oleh teman-teman sanggar seni yang ada di Kota Cirebon,” ungkapnya.

Namun, menurut Fitria, sintren di era sekarang hanya dipentaskan pada acara-acara tertentu saja, sehingga banyak masyarakat luar kota yang tidak mengetahui kesenian khas Cirebon ini.

“Bahkan sintren pada masa sekarang selalu diidentikkan dengan mistis atau magic. Seolah-olah seperti itu, padahal tidak juga, itu ada trik-trik tertentu,” jelasnya.

BACA JUGA: DPRD Minta Dinas Pendidikan Kota Cirebon Perhatikan Kuota dan HP Siswa

Untuk itu, Fitri mengungkapkan, demi menjaga kelestarian sintren, dirinya melihat beberapa sekolah yang ada di Kota Cirebon sudah mengadakan ekstra kurikuler (ekskul) seni, seperti tari topeng, dan renteng, termasuk sintren. Terkait hal tersebut, dirinya berharap kegiatan seni dapat diterapkan di seluruh sekolah yang ada di Kota Cirebon agar dapat dijadikan ekskul lokal untuk menjaga kelestarian kebudayaan Kota Cirebon.

“Sehingga generasi kita ke depan tidak termakan oleh budaya-budaya luar agar lebih mencintai budaya lokal atau budaya Cirebon,” tutupnya. (M Surya)