by

Masyarakat Tolak Isolasi di Hotel Radiant

KABUPATEN CIREBON, SC- Keinginan Pemkab Cirebon untuk menjadikan hotel The Radiant sebagai tempat isolasi terpusat, bak jauh panggang dari api. Pasalnya, setelah resmi dibuka selama lebih dari dua minggu, dari 78 bed (tempat tidur) yang tersedia, sampai saat ini baru terisi 9 bed saja.

Kepala Divisi Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon, Hj Enny Suhaeni mengatakan, hingga saat ini, baru 9 orang terkonfirmasi positif Covid-19 yang mau melakukan isolasi di tempat yang disediakan Pemkab tersebut.

Padahal, menurut Enny, untuk pemusatan tempat isolasi Covid-19 tersebut, Pemkab Cirebon sudah menggelontorkan anggaran hingga ratusan juta rupiah. Enny menyampaikan, sejauh ini pihaknya sudah menggerakkan pegawai di setiap Puskesmas untuk mengajak masyarakat yang terpapar Covid-19 dan masuk kategori tanpa penyakit penyerta dan gejala agar melakukan isolasi di hotel tersebut.

Namun kenyataannya, kata Enny, masyarakatnya sendiri banyak yang menolak untuk melakukan isolasi di Hotel The Radiant.

“Kita sudah menyiapkan teman-teman di puskesmas, bahwa yang masuk kategori harus isolasi mandiri itu terpusat di Hotel  The Radiant. Ternyata masyarakatnya banyak yang menolak,” kata Enny, usai kegiatan di Pendopo Bupati Jalan Kartini Kota Cirebon, Senin (25/1/2021).

Enny menuturkan, dari 39 kamar yang hampir semuanya berisi dua bed, per Senin (25/1) kemarin, hanya diisi oleh 9 orang. Enny menyebutkan, alasan banyaknya masyarakat yang menolak itu karena mereka lebih nyaman melakukan isolasi mandiri di rumah bersama keluarga.

“Alasannya, mungkin mereka lebih enak di keluarganya, padahal kita dan teman-teman puskesmas sudah memaksa,” kata Enny.

Selain itu, sambung Enny, masyarakat dan tenaga kesehatan (Nakes) yang sedang melakukan isolasi di hotel tersebut, juga mengeluhkan kurangnya sarana yang harus disediakan manajemen hotel, yakni jaringan internet atau wifi. Karena, menurut Enny, mereka yang sedang melakukan isolasi itu terdiri dari beragam profesi yang ingin aktivitas secara online bisa tetap berjalan, seperti perawat, dokter hingga dosen.

“Ada beberapa teman juga, ada nakes juga, ternyata sarananya kurang seperti wifi, internetnya tidak bisa diakses. Padahal mereka kan ada yang harus kirim email, bahkan dosen juga harus mengirim materi,” papar Enny.

Atas kondisi tersebut, Enny mengaku sudah meminta pihak manajemen hotel agar menyediakan sarana tersebut. Ia juga meminta, agar masyarakat yang melakukan isolasi mandiri di rumah harus memakai masker sesuai standar, yakni N 95. Karena, saat isolasi mandiri itu diikhawatirkan ada keluarga dalam satu rumah yang terpapar dan memiliki penyakit penyerta atau comorbid.

“Kalau kematian kan tidak bisa ‘diitu’ ya, tapi paling tidak masyarakatnya kalau sudah ada gejala segera datang ke fasilitas kesehatan,” terang Kepala Dinas Kesehatan itu.

BACA JUGA: Januari 2021 Pasien Covid-19 RSUD Arjawinangun Melonjak

Enny menambahkan, yang terjadi selama ini, banyak kasus terkonfirmasi positif meninggal karena mempunyai riwayat penyakit penyerta dan tidak segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Disinggung keberadaan Puskesmas dijadikan sebagai tempat isolasi sesuai keinginan Gubernur Jabar, ia tidak menjelaskannya secara langsung. Namun, Enny menyebut bahwa Puskesmas masih dibutuhkan untuk perawatan lain oleh masyarakat. Terlebih, saat ini rumah sakit juga masih mampu untuk penanganan Covid-19. (Islah)

Comment