by

Bukan Tradisi Biasa, Rebo Wekasan Upaya Tolak Bala Zaman Sunan Drajat

SEBAGIAN masyarakat di wilayah Cirebon melaksanakan ritual Rebo Wekasan yakni tradisi yang diadakan setiap Rabu terakhir di bulan Safar (bulan ke-2 tahun Hijriah).

Seperti yang dilakukan masyarakat di Kompleks Situs Pangeran Pasarean, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Rabu (6/10/2021).

Sesepuh Keprabonan, Pangeran Hanafiah menuturkan, Rebo Wekasan bukan sekadar tradisi. Menurutnya, tradisi Rebo Wekasan dahulu kala merupakan upaya tolak bala (membuang sial) dan merupakan bagian dari syiar Islam di masa itu.

Menurutnya, di dalam tradisi Rebo Wekasan terdapat ritual mandi di sungai. Bukan sekadar mandi bersihkan jasmani, melainkan bersihkan juga rohani atau batin.

“Ini disarankan oleh Sunan Drajat untuk mandi, bebersih dari kotor. Kotor di sini pengertian wali ada jasmani dan rohani,” jelasnya singkat.

Berawal pada ratusan bahkan ribuan tahun silam, lanjut Hanafiah, Cirebon sempat dilanda sebuah wabah. Wabah yang dalam bahasa Cirebon disebut Panggeblug ini menyebabkan orang meninggal dunia secara cepat.

“Pagi sakit sore mati, sore sakit pagi mati,” tuturnya.

BACA JUGA: 14 Balon Kuwu Petahana Bakal Ikut Tes Akademik

Hingga, pada satu waktu, Sunan Drajat diundang oleh Syekh Syarief Hidayatullah ke Cirebon. Sesampainya di Cirebon, Sunan Drajat dan murid-muridnya menempati kawasan sungai di Kriyan (Pegambiran, Lemahwungkuk, Kota Cirebon) sebagai tempat tinggal.

“Dengan para muridnya tiap habis salat magrib, keliling Cirebon sambil membacakan doa-doa khusus, yang konon doa tersebut diyakini manusia dan bangsa jin,” katanya.

Kepada awak media, Hanafi mengatakan, ritual nyiram atau mandi di sungai dalam Rebo Wekasan, merupakan cara menyucikan diri, baik secara jasmani dan rohani.

“Mungkin kalau secara kasat mata itu debu bersih dan penyakit bersih. Tapi, bisa jadi penyebabnya adalah makhluk lain,” tuturnya.

Menurutnya, untuk menghindari bala atau sial, Sunan Drajat mengajak salah satunya dengan melakukan sedekah lewat makanan bernama Cimplo atau Apem dengan manis-manis kinca atau gula merah cair.

Hanafi menyimpulkan, adanya tradisi Rebo Wekasan yang seseungguhnya diambil dari hadits bahwa Allah SWT menurunkan bala atau blai, baik penyakit kecelakaan dan sebagainya, diturunkan di bulan Safar Rabu Terakhir. (Sarrah/Job)

Comment