SUARA CIREBON – Pusat Jajanan Kuliner Trusmi yang dicanangkan sebagai sentra kuliner dan ikon wisata baru di Kabupaten Cirebon, perlahan meredup.
Aktivitas pengunjung di pusat jajanan yang terletak di kawasan Pasar Batik Trusmi, Jalan KH Abbas Cirebon Desa Weru Lor, Kecamatan Weru itu, kini sangat berbeda dengan saat pertama dicanangkan, pada akhir Juli 2025 silam.
Kondisi di kawasan tersebut kini tergolong sepi penunjung, kurang terawat dan cukup memprihatinkan. Pengunjung yang sepi membuat sebagian pedagang memilih tidak berjualan guna menghindari kerugian yang terus berulang.
Salah seorang pedagang, H Uus, menjelaskan, Pusat Jajanan Kuliner Trusmi terbagi menjadi dua kawasan. Pertama, lanjut Uus, berlokasi di Jalan KH Abbas Cirebon yakni dari pintu masuk Terminal Weru hingga ke utara.
“Selain yang ada di jalan, masih ada lagi yang berada di sekitar kawasan panggung utama di dalam Pasar Batik Trusmi. Di awal-awal antara Juli-Oktober 2025, di panggung utama ini sering diadakan even kegiatan sehingga banyak pengunjung dan pedagang jajanan kaki lima cukup ramai. Tapi keramaian itu cuma bertahan beberapa bulan saja, kini even jarang digelar, akibatnya pengunjung pun sepi,” kata Uus, Sabtu, 31Januari 2026 malam.
Akibat sepinya pengunjung, lanjut Uus, sebagian pedagang memilih tidak lagi berjualan guna mengurangi kerugian. Kini kawasan di sekitar panggung utama Pusat Jajanan Kuliner Trusmi terlihat kumuh dan mulai ditumbuhi rumput liar.
“Meski pedagang tidak dipungut sewa lapak bulanan atau tahunan, namun sepinya pembeli membuat pedagang enggan bertahan. Memang ada iuran tapi untuk listrik dan kebersihan yang dikelola DKM masjid,” ujarnya
Selain persoalan fasilitas, sepinya pengunjung juga dipicu masih maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang masih berjualan di sepanjang Jalan Fatahillah. Kondisi tersebut membuat pengunjung enggan masuk ke Pusat Jajanan Kuliner Trusmi dan Pasar Batik.
“Dari sekitar 50 pedagang di dalam, sekarang tinggal sekitar 12 pedagang, sementara pedagang di luar sepanjang Jalan H Abas sampai gapura pintu masuk, awalnya sekitar 206 pedagang, kini tersisa sekitar 112 pedagang,” katanya.
Menurutnya, para pedagang berharap dapat kembali berjualan di lokasi semula, yakni di Jalan Syekh Datul Kahfi, agar aktivitas PKL tidak terpusat di Jalan Fatahillah.
“Di Jalan Fatahillah masih ada aktivitas PKL dari pagi sampai pagi lagi, akhirnya pengunjung, khususnya kuliner, terpecah dan malas masuk ke dalam kawasan kuliner dan pasar batik,” ungkapnya.
Para pedagang juga menyoroti minimnya promosi dari pemerintah daerah sebagai salah satu penyebab kawasan tersebut kehilangan daya tarik.
“Sepinya mungkin juga karena kurang promosi dari pemda, tidak seperti dulu yang hampir setiap minggu ada acara,” ujarnya.
Menurut Uus, Pemkab Cirebon melalui sejumlah instansi terkait harus segera turun tangan, agar cita-cita menjadikan Pusat Jajanan Kuliner Trusmi sebagai ikon pariwisata baru dapat terwujud.
“Kami berharap pemerintah daerah dan dinas terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap Pusat Jajanan Kuliner dan Pasar Batik Trusmi, baik dari sisi perbaikan fasilitas maupun promosi kegiatan supaya kawasan ini bisa hidup lagi seperti dulu,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















