SUARA CIREBON – Kondisi jalan pantura Cirebon menyimpan kini ancaman bagi pengendara, utamanya pengendara roda dua. Di sepanjang jalur tersebut, puluhan bahkan ratusan lubang menganga seperti sedang “menanti korban”.
Sebagian besar pengendara sepeda motor sepakat, melintas di jalur ini tak ubahnya bertaruh nyawa. Pemandangan kendaraan yang tiba-tiba mengerem mendadak atau meliuk-liuk tak beraturan sudah menjadi hal biasa.
Para sopir truk, bus pun harus memperlambat laju kendaraan lantaran kondisi jalan rusak parah, dan siap menjebak siapa saja yang lengah.
Terlebih ketika malam menjelang, Pantura Cirebon berubah wajah menjadi jalur gelap yang rawan kecelakaan. Sehingga masyarakat sekitar menjulukinya dengan “jalur tengkorak”.
Pantauan Suara Cirebon, lubang-lubang di Jalan Pantura Cirebon berjejer hampir di setiap lajur dengan ukuran beragam, dari mulai diameter 15 centimeter hingga 50 centimeter dengan kedalaman yang tak kalah mengerikan, berkisar antara 7 centimeter hingga 20 centimeter.
Hujan yang turun nyaris setiap hari belakangan ini, menyebabkan munculnya genangan yang berubah menjadi jebakan yang sulit dikenali. Terlebih, jalan Pantura Cirebon merupakan jalur utama lintasan kendaraan berat seperti truk dan trailer. Kondisi tersebut, mempercepat kerusakan aspal dan memunculkan lubang-lubang baru.
Di tengah derasnya arus kendaraan dan gelapnya malam di jalur pantura, para pengendara dan warga hanya bisa berharap satu hal yakni jalan segera diperbaiki.
Seorang pengendara yang setiap hari melintasi pantura Cirebon, Dadi (44) mengaku, rasa khawatirnya belum benar-benar hilang meskipun dirinya sudah lama berdamai dengan kondisi jalan tersebut. Menurut Dadi, kondis jalan pantura dengan lubang yang mengkhawatirkan ini sudah terjadi sejak lama.
“Padahal Pantura itu jalur cepat, dari motor sampai truk jarang yang pelan,” ujarnya, Kamis, 5 Februari 2026.
Ia mengatakan, kecelakaan akibat jalan berlubang bukan lagi cerita baru, terutama bagi pengendara roda dua. Kendaraan ini paling rentan terjatuh saat roda menghantam lubang atau saat berusaha menghindar. Menurut Dadi, tak sedikit pengendara terjatuh akibat lubang-lubang tersebut.
“Saya juga kalau lewat takut kena lubang yang dalam, jadi ya harus pelan-pelan sambil milih jalan,” paparnya.
Seorang pemilik warung kecil di tepi jalan pantura, Isnayah (49), menjadi saksi bisu keganasan jalan tersebut. Warungnya yang berdiri persis di pinggir jalan kerap berubah fungsi menjadi tempat singgah darurat bagi korban kecelakaan.
“Di sini sering ada kecelakaan, apalagi kalau malam jalannya gelap, lubangnya dalem-dalem,” ucapnya.
Menurut Isnayah, tak jarang dirinya harus membantu pengendara yang terjatuh, sekadar memberi air minum atau membantu menghubungi keluarga korban.
“Banyak yang celaka gara-gara jalan berlubang. Maunya ya cepat diberesin,” tuturnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















