SUARA CIREBON – Kasus Vina, warga Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, yang mencuat sebagai korban “pengantin pesanan” negara China, membuka tabir praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus serupa.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, mengaku, Disnaker telah menerima dua laporan dugaan kasus serupa yang berkaitan dengan warga Kabupaten Cirebon di luar negeri.
“Sejauh ini kami sudah menerima laporan dugaan kasus pengantin pesanan ini sebanyak dua kasus,” ujar Novi Hendrianto, Rabu, 4 Maret 2026.
Laporan tersebut kini tengah ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan berbagai pihak. Pasalnya, menurut Novi, secara substansi persoalan tersebut tidak masuk dalam kewenangan Disnaker, karena tidak berkaitan langsung dengan penempatan tenaga kerja resmi.
Namun masyarakat kerap mengaitkannya dengan dinas tenaga kerja karena hal tersebut menyangkut keberangkatan warga ke luar negeri.
“Kalau melihat kasus yang terjadi, sebenarnya bukan kewenangan Disnaker. Namun masyarakat biasanya mengira setiap keberangkatan ke luar negeri berkaitan dengan tenaga kerja,” katanya.
Meski demikian, Disnaker Kabupaten Cirebon tetap melakukan langkah koordinatif lintas instansi untuk mendalami laporan yang masuk, termasuk berkomunikasi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah setempat.
“Karena jika korban sudah berada di luar negeri, maka penanganannya menjadi ranah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui perwakilan diplomatik di negara tujuan,” ujarnya.
Novi menjelaskan, modus kasus tersebut pelaku mendatangi korban dan keluarganya dan menawarkan pernikahan dengan warga negara asing (WNA). Berdasarkan informasi yang ia terima, terduga pelaku mendatangi langsung korban dan keluarganya untuk menawarkan pernikahan dengan warga negara asing. Setelah ada kesepakatan, korban kemudian diberangkatkan ke luar negeri.
Novi menyebut pola tersebut sebagai modus baru yang mulai terdeteksi di wilayah Kabupaten Cirebon. Pemberangkatan kerap dilakukan tanpa sepengetahuan pemerintah desa dan tidak melalui prosedur resmi.
Pelaku atau calo kerap menjanjikan proses cepat serta kehidupan yang lebih baik di luar negeri agar korban dan keluarga tergiur. Ia mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran pernikahan atau pekerjaan di luar negeri yang tidak melalui jalur resmi.
Novi juga meminta pemerintah desa agar aktif memantau warganya yang akan berangkat ke luar negeri dengan alasan apa pun.
“Jangan mudah tergiur janji manis. Jika ada tawaran yang mencurigakan, sebaiknya dikonsultasikan dulu ke pemerintah desa atau instansi terkait,” tandasnya.
Kasus ini mencuat setelah video Vina menangis dan meminta pertolongan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, viral di media sosial.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.

















