SUARA CIREBON – Menjelang dimulainya kembali aktivitas perkantoran dan sekolah pada Senin, 30 Maret 2026, pergerakan para pemudik yang menuju Jakarta diprediksi mencapai puncaknya pada gelombang kedua arus balik, Sabtu, 28 Maret 2026 hingga Minggu, 29 Maret 2026.
Terkait hal itu, atas diskresi Kepolisian RI, diberlakukan kebijakan satu arah (one way) nasional, dari KM 414 Gerbang Tol (GT) Kalikangkung ruas Tol Batang-Semarang hingga KM 70 ruas Tol Jakarta-Cikampek.
Imbas kebijakan satu arah di ruas Tol Cipali, jalur Pantura Kabupaten Cirebon arah Jawa menuju Jakarta terjadi lonjakan kepadatan kendaraan.
Pantauan Suara Cirebon, puluhan ribuan kendaraan yang didominasi truk besar dan mobil pribadi hanya bisa berjalan merayap, Minggu, 29 Maret 2026.
Antrean panjang kendaraan terpantau mulai dari kawasan Pantura Arjawinangun hingga merembet ke kawasan Kedawung Kabupaten Cirebon.
Kepadatan ribuan kendaraan yang didominasi truk besar sumbu tiga, bus antar-kota dan mobil pribadi ini dipicu oleh penumpukan kendaraan di depan pintu masuk Tol Palikanci, tepatnya di kawasan Tegal Karang.
Banyaknya pengemudi truk yang menunggu jadwal masuk tol menyebabkan kemacetan di jalur arteri tidak terelakkan.
Kondisi ini memaksa sejumlah pengendara untuk terus melanjutkan perjalanan menyusuri jalur Pantura meskipun arus lalu lintas hanya bisa ditempuh dengan kecepatan maksimal 20 kilometer per jam.
Sejak skema one way diberlakukan di ruas Tol Cipali untuk melayani arus balik, arus kendaraan dari arah Jakarta yang menuju ke arah timur Pulau Jawa otomatis dialihkan sepenuhnya ke jalur arteri (Pantura).
Hal inilah yang menjadi penyebab utama beban volume kendaraan di jalur Pantura Cirebon meningkat drastis.
Kemacetan panjang ini diprediksi akan terus terjadi selama pemberlakuan sistem satu arah di dalam ruas tol masih berlangsung.
Sementara itu, ribuan pemudik motor dari arah Jawa menuju Jakarta dan Bandungterpantau masih memadati jalur Pantura Kabupaten Cirebon.
Meski arah Jawa menuju Jakarta dan Bandung tidak sampai terjadi kemacetan panjang, namun sedikitnya lima titik pertemuan arus yang kerap menjadi titik penumpukan dan pelambatan kendaraan.
Para pemudik sepeda motor itu memacu kendaraannya di tengah teriknya matahari. Cuaca yang berubah tanpa bisa diprediksi membuat para pemudik motor harus melakukan persiapan ekstra, seperti jas hujan dan plastik pemutup barang bawaan.
Salah seorang pemudik yang hendak kembali ke Jakarta dari arah Pekalongan Jawa Tengah, Purnomo mengaku harus segera kembali ke Bekasi karena tuntutan pekerjaan. Dalam perjalanan balik usai judik di kampung halaman, Purnomo membawa serta istri dan anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Begitu memasuki Cirebon cuaca terasa cukup panas. Kami memilih beristirahat sejenak sekadar mengisi perut dan minum,” kata Purnomo.
Ia mengaku memilih menempuh perjalanan siang agar sampai di kontrakan mereka Bekasi sore hari.
“Besok (hari ini, red) saya sudah harus bekerja, anak juga akan kembali sekolah. Kalau sore sudah sampai di kontrakan ada waktu buat istirahat,” ujarnya.
Sementara, warga Kecamatan Plered, Eko (33), mengaku pemberlakukan satu arah menyebabkan usaha yang digelutinya cukup terganggu. Sebagai pengusaha supplier air mineral, proses pengiriman ke sejumlah toko lokal menjadi terhambat.
“Karena kan semua kendaraan yang bisanya masuk tol dibuang semua ke Pantura, jadi kendaraan Cuma bisa merayap. Akibatnya yang bisanya bisa kirim 4-5 kali bisa kirin satu kali saja sudah bagus,” katanya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















