SUARA CIREBON – Para Mandor Desa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kasatgas Kabupaten Cirebon (FK3C) melakukan aksi solidaritas terkait kasus dugaan skandal perselingkuhan yang melibatkan istri Kuwu Kedungjaya dengan salah satu oknum pimpinan DPRD Kota Cirebon berinisial HSG, Selasa, 5 Mei 2026.
Aksi yang digelar di depan gedung DPRD Kota Cirebon tersebut, dilakukan bertepatan dengan proses pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik oleh Badan Kehormatan (BK) DPRD setempat.
BK DPRD Kota Cirebon mengagendakan pemanggilan Kuwu Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Satria Robi Saputra (SRS) selaku pihak pelapor untuk dimintai keterangannya.
Dalam aksi solidaritas tersebut, massa melakukan orasi sambil membentangkan spanduk bertuliskan kecaman dan tuntutan atas tindakan yang diduga dilakukan HSG. Salah satu spanduk bertuliskan, “Turunkan HSG”.
Ketua FK3C, Ragil Setiawan, menyampaikan, aksi solidaritas yang dilakukan para mandor se-Kabupaten Cirebon digelar sebagai bentuk dukungan moril terhadap Kuwu Kedungjaya, Satria Robi Saputra.
“Aksi yang kami dilakukan bukan untuk menghakimi pihak mana pun, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap nilai moral, etika, dan kepercayaan publik, baik di kota maupun Kabupaten Cirebon,” kata Ragil Setiawan.
Pihaknya sangat menyayangkan adanya dugaan perilaku yang tidak mencerminkan integritas yang melibatkan oknum pejabat publik. Menurut Ragil, baik kuwu maupun anggota DPRD memiliki peran penting di masing-masing institusi, sehingga seharusnya mampu menjadi teladan bagi masyarakat.
“Kuwu dan bu kuwu di desa punya peran penting, begitu juga anggota DPRD. Keduanya adalah tokoh publik yang semestinya memberi contoh baik, menjaga sikap, kehormatan, serta menjunjung tinggi moral di masyarakat,” ucapnya.
Menurut Ragil, aksi ini juga merupakan respons atas keresahan yang dirasakan masyarakat. Ia menyebut para kuwu merupakan pimpinan bagi perangkat desa, sehingga ketika ada persoalan yang menimpa salah satu kuwu, pihaknya merasa ikut terdampak secara emosional.
“Kami tidak ingin diam ketika muncul keresahan di tengah warga. Kuwu adalah pimpinan kami. Ketika pimpinan kami merasa disakiti atau terusik, kami juga merasakan hal yang sama,” ungkapnya.
Melalui aksi damai ini, FK3C berharap dapat menyampaikan aspirasi sekaligus memberikan dukungan moral dan psikologis kepada Kuwu Kedungjaya yang tengah memberi keterangan di hadapan BK DPRD.***



















