SUARA CIREBON – Setelah sukses menyelenggarakan Festival Serabi, Kecamatan Kesambi kembali meluncurkan terobosan baru yang inovatif. Masih mengangkat potensi kuliner lokal yang sama, Kecamatan Kesambi menggelar program penanganan stunting melalui gerakan konsumsi serabi.
Kegiatan tersebut, merupakan kerja sama Pemerintah Kecamatan Kesambi dengan Poltekkes Tasikmalaya. Peluncuran program dilaksanakan di Aula Kecamatan Kesambi Graha Pancaniti, Selasa, 23 Juni 2026.
Camat Kesambi, Eko Budiyanto, mengatakan, inovasi ini berawal dari koordinasi bersama pihak Poltekkes Tasikmalaya yang telah mendapatkan dukungan anggaran dari Kementerian Kesehatan. Program tersebut difokuskan pada dua hal utama yakni penanganan stunting dan pemberdayaan ibu rumah tangga yang bertindak sebagai kepala keluarga.
​”Kami melihat ada potensi besar dari UMKM kuliner khas Cirebon, yaitu serabi. Oleh karena itu, saya meminta pihak kampus untuk meneliti lebih dalam, apakah serabi ini bisa efektif membantu menurunkan stunting,” ujar Eko Budiyanto, dalam sambutannya.
Menurut Eko, serabi bukan sekadar karbohidrat biasa. Dengan variasi topping yang kaya akan protein seperti ebi, telur, tempe oreg, hingga tahu serabi memiliki kandungan gizi yang sangat baik, terutama jika dikonsumsi oleh ibu menyusui dan anak-anak dalam masa pertumbuhan.
Untuk menyukseskan gerakan ini, Kecamatan Kesambi turut melibatkan para pedagang serabi lokal yang sudah berpengalaman puluhan tahun.
“Mereka dihadirkan untuk memberikan pelatihan dan mentransfer keahlian mereka kepada para ibu rumah tangga di wilayah Kesambi,” katanya.
Lebih dari sekadar program kesehatan, Eko Budiyanto juga menaruh harapan besar terhadap masa depan serabi Cirebon. Ia menyayangkan belum adanya pengemasan serabi secara profesional yang membuatnya layak dijadikan buah tangan ikonik yang tahan lama.
​”Melalui program pemberdayaan ini, serabi diharapkan dapat dikemas secara modern, lengkap dengan petunjuk ketahanan suhu dan cara menghangatkan kembali, sehingga siap bersaing menjadi produk oleh-oleh unggulan dari Kota Cirebon,” katanya.
Menanggapi permintaan Camat Kesambi, akademisi sekaligus dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Bidan Rani, menyampaikan, serabi Cirebon sebenarnya sudah memiliki modal gizi yang baik berkat penggunaan toping tradisional seperti oncom, tempe, dan telur.
“Namun, untuk memaksimalkan fungsi pencegahan stunting, butuh diversifikasi melalui variasi toping,” kata Rani.
Beberapa inovasi yang disarankan meliputi penambahan daun kelor ke dalam adonan serabi, hingga penggunaan toping tinggi protein hewani seperti daging rendang, udang, atau telur secara lebih optimal. Inovasi ini serupa dengan surabi Bandung yang telah lebih dulu dimodifikasi dengan berbagai toping modern layaknya piza.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.

















