SUARA CIREBON – Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar Kabupaten Cirebon, bukan ajang perdebatan. Hal tersebut disampaikan kader senior partai berlambang pohon beringin, yang sekaligus sebagai Wakil Sekretaris DPD Golkar Kabupaten Cirebon, A.Jazuli.
“Musda tidak perlu menjadi arena perebutan kekuasaan internal. Golkar Kabupaten Cirebon memiliki tiga kader terbaik yang telah menunjukkan kapasitasnya,” ujarnya, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurut Jazuli, saat ini mereka adalah Teguh Rusiana Merdeka, Anton Maulana, dan Sunandar Priowudarmo. Jazuli juga mendorong Teguh Rusiana Merdeka kembali dipercaya sebagai Ketua DPD Golkar Kabupaten Cirebon.
“Ketiganya, telah menempati posisi strategis sesuai bidangnya masing-masing. Teguh sudah duduk sebagai Ketua DPD. Anton Sekretaris DPD Golkar, sedangkan Sunandar Priowudarmo sudah ditarik ke DPD Golkar Jawa Barat,” katanya.
Jazuli menilai kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Golkar Kabupaten Cirebon menghadapi Musda. Agenda lima tahunan itu, menurut Jazuli, semestinya diarahkan sebagai momentum konsolidasi, bukan membuka kembali friksi internal.
“Artinya, posisi DPD Golkar Kabupaten Cirebon sudah tidak perlu lagi ada perdebatan. Musda hanya sebagai sarana untuk menggelar agenda konsolidasi lima tahunan,” katanya.
Ia menilai Teguh telah membuktikan kemampuannya menjaga kondusivitas partai selama lima tahun terakhir. Karena itu, Jazuli mengusulkan agar Teguh kembali menjadi ketua, sementara Anton tetap dipercaya sebagai sekretaris.
Menurutnya, pembagian peran tersebut akan membuat kerja partai lebih efektif. Teguh dapat fokus mengurus konsolidasi dan kepartaian, sedangkan Anton berkonsentrasi pada tugas-tugas legislatif.
“Anton fokus di legislatif, ketua komisi dan fraksi. Teguh fokus di kepartaian agar Golkar lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Jazuli menilai Golkar masih memiliki peluang untuk meningkatkan perolehan kursi legislatif pada Pemilu mendatang. Setelah mampu mempertahankan tujuh kursi di DPRD Kabupaten Cirebon, target berikutnya adalah menambah jumlah kursi tersebut.
“Kita bertahan di tujuh kursi. Ke depan bisa meningkat lagi,” katanya.
Jazuli juga menyinggung perjalanan kaderisasi di tubuh Golkar. Menurut dia, Teguh, Anton dan Sunandar atau Prio merupakan kader yang ditempa melalui proses panjang di partai.
Prio kini berkiprah di DPD Golkar Jawa Barat, membantu Ketua DPD Golkar Jabar, Daniel. Sementara Teguh dinilai telah membuktikan kapasitasnya memimpin Golkar Kabupaten Cirebon.
“Ketiganya tempaan dari Alm H Ason Sukasa dan Dave,” ujar Jazuli.
Ia menegaskan, dorongan terhadap Teguh bukan berarti Golkar Kabupaten Cirebon kekurangan kader untuk regenerasi. Sebaliknya, sejumlah kader muda sedang dipersiapkan untuk menjadi kekuatan partai di masa mendatang.
Jazuli menyebut Ujang, Ari dan Diah sebagai sejumlah kader yang masuk dalam proses regenerasi tersebut. Mereka dinilai masih memiliki waktu untuk menjalani pendidikan dan penempaan politik di internal partai.
“Ini bukan berarti tidak ada regenerasi. Mereka hanya lokomotif. Di sekelilingnya anak-anak muda,” katanya.
Menurut Jazuli, keberadaan organisasi sayap partai dan ruang kaderisasi menjadi bagian penting untuk menyiapkan generasi baru Golkar. Anak-anak muda, kata dia, harus diberikan ruang untuk belajar sebelum terjun lebih jauh dalam dunia politik.
“Di Golkar banyak tempat untuk masyarakat bernaung di Beringin. Itu untuk melatih anak-anak muda manakala terjun ke dunia politik,” ujarnya.
Terkait munculnya nama lain dalam bursa Ketua DPD Golkar Kabupaten Cirebon, Jazuli mengatakan setiap kader memiliki hak untuk maju. Namun, ia mengingatkan bahwa pencalonan harus disertai ukuran kemampuan dan pengalaman mengelola partai.
“Yang lain boleh saja, silakan saja. Tapi ukur kemampuannya. Kan ada kredit poin,” katanya.
Ia mencontohkan Teguh yang saat ini menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon serta Anton yang menjadi Ketua Fraksi Golkar. Menurutnya, posisi tersebut menjadi salah satu indikator pengalaman dan kapasitas keduanya.
Jazuli juga menyinggung adanya kader yang sebelumnya pernah berkiprah dalam kontestasi politik. Namun, menurut dia, pengalaman mengikuti kontestasi belum otomatis menjadi ukuran utama untuk memimpin partai.
“Dia Ramayana pernah berkiprah dalam kontestasi. Tapi sejauh mana mengurus partai, emosional di bawahnya bagaimana. Di internal tidak muncul nama dia,” ujarnya.
Jazuli menyebut Prio juga memiliki peluang. Namun, ia meminta seluruh kader tidak lagi terjebak pada dinamika politik masa lalu.
“Prio juga peluangnya ada. Tapi tidak usah nengok ke belakang. Yang sudah dilalui, sudah. Kita terus berproses ke atas,” katanya.
Ia berharap Musda Golkar Kabupaten Cirebon tidak terseret pada persoalan internal yang justru berpotensi menimbulkan friksi. Menurutnya, seluruh kader harus melihat target politik partai ke depan.
“Ini tahapan politik lima tahunan. Kita jangan terjebak dengan persoalan di internal. Fokus pada mimpi ke depan. Toh mereka sudah terbukti,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















