SUARA CIREBON – Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menggelar tradisi Siraman Panjang di Bangsal Pungkuran, Kamis, 20 Agustus 2026). Ritual tahunan yang digelar setiap 5 Mulud dalam penanggalan Jawa tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau Muludan.
Siraman Panjang tidak hanya menjadi prosesi pencucian benda-benda peninggalan Sunan Gunung Jati. Tradisi yang telah berlangsung hampir enam abad itu juga dimaknai sebagai simbol penyucian diri manusia.
Sebanyak tujuh piring tafsi, 38 piring pengiring, serta guci antik dicuci secara teliti dalam ritual tersebut. Benda-benda peninggalan itu nantinya disimpan dan kembali dikeluarkan saat puncak Muludan pada 26 Agustus 2026.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, P.R. Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan tujuh piring tafsi memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan penataan waktu dan kehidupan manusia.
“Tujuh piring tafsi melambangkan tujuh hari dalam satu pekan, mulai dari Senin hingga Minggu. Siraman Panjang memiliki makna sebagai simbol membersihkan diri. Semua benda pusaka dicuci pada ritual Siraman Panjang, nanti akan disimpan dan akan dikeluarkan kembali saat puncak Muludan,” ujar sosok yang akrab dipanggil Agum tersebut.
Setelah prosesi Siraman Panjang, rangkaian tradisi dilanjutkan dengan pembukaan bekasem ikan. Olahan ikan tersebut telah difermentasi di dalam dua guci kuno selama sebulan.
Keraton juga mulai membuat boreh, yakni ramuan rempah khas yang akan menjadi bagian dari persiapan perarakan puncak Muludan.
“Nah, kebetulan tadi setelah Siraman Panjang, kita menyaksikan buka bekasem ikan yang telah difermentasi di guci… Baru dibuka juga bubaran di Siraman Panjang tadi. Untuk boreh nanti rangkaiannya sama, mulai hari ini dibuat sebagai persiapan bahan-bahan yang akan diarak di tanggal 26 nanti,” pukas Goemelar.
Rangkaian tradisi tersebut menjadi bagian dari persiapan Keraton Kasepuhan menyambut puncak Muludan pada 26 Agustus 2026.
Melalui Siraman Panjang, Keraton Kasepuhan terus merawat warisan Sunan Gunung Jati sekaligus mempertahankan nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi tersebut, termasuk pesan tentang kebersihan jasmani dan rohani.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.

















