SUARA CIREBON – Keberadaan Gudang Garam Rakyat (GGR) bantuan pemerintah pusat dinilai belum sepenuhnya mampu menjaga harga jual garam di tingkat petambak Kabupaten Cirebon. Saat produksi meningkat, harga garam justru kembali tertekan akibat terbatasnya pembeli dan lemahnya serapan pasar.
Abdul Manaf, penimbang sekaligus penggarap tambak garam di Desa Pangarengan, mengatakan intervensi pemerintah masih dibutuhkan, terutama melalui pembiayaan dan penyerapan hasil produksi.
“Yang bisa menjaga kemungkinan kalau pemerintah turun tangan. Terus ada pendanaan untuk menyerap, ya bisa,” katanya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurut Manaf, harga garam krosok saat ini hanya sekitar Rp880 per kilogram. Harga tersebut hanya terpaut tipis dengan garam industri yang berada di kisaran Rp900 per kilogram.
“Kendalanya di harga. Harga sekarang masuk ke atas mobil Rp880 per kilogram untuk garam krosok,” kata Manaf.
Padahal, harga garam sebelumnya sempat berada di kisaran Rp1.400 per kilogram ketika panen belum merata.
Manaf menilai mekanisme penyerapan seperti yang dilakukan Bulog dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga harga komoditas garam.
“Kalau ada aturan pemerintah seperti Bulog, mungkin enak,” ujarnya.
Pada 2025, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan sejumlah fasilitas pendukung produksi garam di Desa Pangarengan.
Bantuan itu meliputi Gudang Garam Rakyat (GGR) berkapasitas 200 ton dan Gudang Garam Nasional berkapasitas 2.000 ton.
Pembina Mutu Hasil Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKKP) Kabupaten Cirebon, Eka Reza Kurniawan, sebelumnya mengatakan gudang garam sangat dibutuhkan ketika produksi garam meningkat.
“Gudang-gudang ini sangat dibutuhkan petambak garam. Ketika musim garam bagus, produksinya sangat melimpah dan harganya turun,” kata Eka.
Eka mengatakan, ketika harga garam sedang anjlok, petambak dapat menyimpan hasil produksinya terlebih dahulu dan mengeluarkannya sesuai kebutuhan.
“Ketika harga garam sedang anjlok, petambak bisa menyimpan garamnya, lalu mengeluarkannya sesuai kebutuhan. Ketika musim penghujan dan harga lebih stabil, mereka baru bisa mengeluarkannya untuk mengejar HPP atau margin,” ujar Eka.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















