SUARA CIREBON – Hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan antara pekerja, perusahaan, pemerintah, serta masyarakat di sekitar kawasan industri menjadi salah satu kunci dalam menjaga kondusivitas dunia usaha.
Kondisi tersebut juga sekaligus dapat menciptakan iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan di Kabupaten Cirebon. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) terus mendorong terciptanya harmonisasi hubungan tersebut.
Upaya tersebut ditegaskan dalam momentum silaturahmi dan harmonisasi hubungan industrial yang mempertemukan unsur Pemkab Cirebon, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), manajemen perusahaan, pekerja, serta unsur masyarakat.
Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon. Novi Hendriyanto mengatakan, harmonisasi hubungan industrial tidak boleh berhenti sebatas narasi, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Salah satunya melalui kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekitar dengan memberikan santunan dan berbagai bentuk dukungan sosial.
“Jadi, yang harus dijalin tidak hanya pekerja dan pemberi kerja, tetapi juga dengan pemerintah dan masyarakat lingkungan sosial,” ujar Novi, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Ia menyebut, hubungan industrial yang sehat membutuhkan keseimbangan antara pemenuhan hak pekerja dan kewajiban pekerja dalam menjaga kedisiplinan serta profesionalisme.
Perusahaan wajib memenuhi berbagai norma ketenagakerjaan, mulai dari pembayaran upah, uang lembur, hingga hak dan kesejahteraan pekerja.
Sementara pekerja juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedisiplinan, profesionalisme, dan produktivitas. “Pekerja dan perusahaan itu saling membutuhkan dan saling memperkuat dalam hubungan industrial yang harmonis,” paparnya.
Harmonisasi hubungan industrial juga berdampak terhadap proses pemulihan aktivitas PT Yihong Novatex Indonesia setelah sebelumnya sempat menghadapi dinamika internal.
Melalui evaluasi dan pembenahan yang dilakukan bersama antara manajemen dan serikat pekerja, aktivitas produksi perusahaan kini mulai kembali berjalan secara bertahap.
Data Disnaker Kabupaten Cirebon mencatat, dari sekitar 1.200 pekerja sebelumnya, saat ini sudah sekitar 800 hingga 900 orang yang kembali aktif bekerja. Pemulihan tersebut dinilai menjadi indikator positif bahwa komunikasi bipartit antara manajemen dan pekerja mulai berjalan dengan lebih baik.
Disnaker sendiri menjalankan fungsi tripartit dengan memfasilitasi komunikasi antara pemerintah, pekerja, dan pemberi kerja ketika terdapat persoalan hubungan industrial. Namun, penyelesaian persoalan sedapat mungkin dilakukan terlebih dahulu melalui mekanisme bipartit di tingkat perusahaan.
“Dengan adanya hubungan bipartit yang baik, sebelum sampai ke Disnaker sudah dilakukan evaluasi-evaluasi. Khususnya di Yihong ada perbaikan di manajemen dan perbaikan di teman-teman pekerja melalui serikat pekerja,” terangnya.
Calon pelamar dapat mengakses informasi lowongan melalui sistem daring yang disediakan Disnaker. Pelamar cukup melakukan pemindaian kode atau scan barcode, kemudian mengunggah data yang dibutuhkan.
Proses seleksi selanjutnya, termasuk wawancara, juga dilakukan secara daring dan tidak dipungut biaya. Ia menegaskan, pembukaan lowongan hingga online interview dilaksanakan tanpa dipungut biaya.
“Seratus persen gratis,” katanya.
Lowongan tersebut terbuka untuk berbagai kebutuhan perusahaan, baik bagi tenaga kerja berpengalaman maupun pencari kerja baru atau fresh graduate. Proses rekrutmen yang berjalan saat ini telah mencapai lebih dari 60 persen dari total target kebutuhan tenaga kerja.
Artinya, peluang perekrutan masih akan terus dibuka secara bertahap seiring perkembangan perusahaan. Ia juga menyampaikan optimisme terhadap perkembangan perusahaan di Kabupaten Cirebon.
Meski perjalanan operasional perusahaan di Indonesia sempat menghadapi berbagai dinamika, manajemen menilai masih terdapat peluang besar untuk mengembangkan bisnis dan memperluas kegiatan usaha.
Ia juga berharap seluruh pekerja dan manajemen dapat bersatu, saling mendukung, serta menjaga keberlangsungan perusahaan. “Masih perlu ekspansi lagi ke depan,” ucapnya.
Ia pun mengapresiasi Pemkab Cirebon yang dinilai telah memberikan dukungan terhadap keberadaan dan perkembangan investasi PT Yihong Novatex Indonesia.
Sementara itu, sektor manufaktur menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Kabupaten Cirebon. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sekitar 20 persen populasi tenaga kerja atau lebih dari 160.000 orang menggantungkan mata pencaharian pada sektor manufaktur.
Pertumbuhan kawasan industri di Kabupaten Cirebon, termasuk di wilayah Cirebon Timur yang pengembangannya disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), juga dinilai membuka peluang penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Bahkan, investasi baru dari perusahaan asal Tiongkok di sektor industri alas kaki diproyeksikan mampu menyerap hingga sekitar 20.000 tenaga kerja lokal setelah fasilitas produksinya beroperasi.
Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi masyarakat Kabupaten Cirebon, khususnya para pencari kerja. Namun, peluang tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta hubungan industrial yang kondusif.
Bagi PT Yihong sendiri, dipilihnya Kabupaten Cirebon sebagai lokasi investasi karena memiliki posisi geografis yang strategis. Sebagian besar pelanggan perusahaan berada di Jawa Barat dan wilayah sekitarnya, sehingga keberadaan pabrik di Kabupaten Cirebon dinilai dapat mendukung efisiensi rantai pasok dan kedekatan dengan pasar.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















