SUARA CIREBON – Pemerintah Kabupaten Cirebon menyiapkan tiga tahapan penanganan untuk mengatasi krisis air bersih yang setiap musim kemarau melanda sejumlah wilayah. Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, menjadi salah satu daerah prioritas karena ribuan warganya telah puluhan tahun mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Bupati Cirebon, Drs H Imron MAg, mengatakan penanganan kekeringan akan dilakukan melalui langkah jangka pendek, menengah, dan panjang agar persoalan air bersih tidak lagi hanya ditangani dengan distribusi bantuan saat musim kemarau.
Untuk jangka pendek, Pemkab Cirebon masih melakukan distribusi air bersih kepada warga terdampak. Selanjutnya, pemerintah mengusulkan pembangunan sumur dalam kepada pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Sementara dalam jangka panjang, Pemkab Cirebon akan mendorong konservasi sumber daya air melalui penghijauan dan rehabilitasi lingkungan di kawasan yang memiliki peran penting terhadap ketersediaan sumber air.
“Selama ini ketika terjadi kekeringan, penanganannya masih berupa distribusi air bersih. Ke depan tentu harus ada solusi yang lebih konkret dan berkelanjutan,” kata Imron saat meninjau Desa Slangit bersama Wakil Bupati Cirebon H Agus Kurniawan Budiman dan Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, Minggu, 30 Agustus 2026.
Desa Slangit menjadi perhatian khusus karena sedikitnya 3.307 jiwa terdampak kesulitan air bersih setiap musim kemarau. Dalam kondisi tertentu, warga bahkan terpaksa mencari air hingga ke saluran irigasi di desa lain untuk mandi dan mencuci.
Hasil peninjauan di lapangan juga menunjukkan sebagian warga masih menggunakan sumber air dengan kualitas yang tidak layak akibat terbatasnya ketersediaan air bersih.
“Setelah saya tinjau ternyata masyarakat di sini menggunakan air kotor. Ada yang dari selokan dimasukkan ke sumur, kemudian dari sumur itu digunakan untuk mandi,” ujar Imron.
Pemkab Cirebon kini menyiapkan solusi permanen berupa pembangunan sumur bor. Berdasarkan hasil pencarian sumber air, potensi air ditemukan pada kedalaman sekitar 185 meter.
Untuk tahap awal, pembangunan sumur bor direncanakan dilakukan di satu titik dengan dukungan Wakil Ketua DPR RI dan pemerintah pusat.
“Kang Saan Mustopa dan Dirjen SDA akan membantu pembuatan sumur bor. Setelah dicari, ternyata air ada di kedalaman 185 meter. Tahap awal baru akan dibangun di satu titik,” katanya.
Imron berharap pembangunan infrastruktur sumber air tersebut dapat menjadi solusi permanen bagi warga Desa Slangit yang selama ini bergantung pada bantuan distribusi air bersih ketika kemarau tiba.
“Mudah-mudahan tahun depan persoalan kekeringan, khususnya di Desa Slangit, sudah bisa tertangani dengan solusi yang lebih permanen,” ujarnya.
Kuwu Slangit, Apendi, mengatakan krisis air bersih merupakan persoalan lama yang telah puluhan tahun dihadapi masyarakat desanya. Selama musim kemarau, warga selalu kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sudah puluhan tahun masyarakat kami mengalami kesulitan air bersih. Bahkan untuk mandi, warga harus mencari air sampai ke irigasi di desa sebelah,” kata Apendi.
Menurut dia, penggunaan air dari saluran irigasi yang kualitasnya tidak terjamin juga pernah berdampak pada kesehatan warga, termasuk munculnya gangguan kulit.
Selama ini, kata Apendi, penanganan kekeringan di Desa Slangit masih bergantung pada bantuan pengiriman air bersih. Karena itu, masyarakat berharap pembangunan sumber air permanen dapat segera direalisasikan.
Kabupaten Cirebon sendiri memiliki tingkat kerentanan kekeringan di sejumlah wilayah. Dari total 40 kecamatan, sekitar enam kecamatan saat ini mengalami dampak kekeringan dengan jumlah warga terdampak mencapai sekitar 8.000 jiwa.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















