SUARA CIREBON – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon telah menyalurkan 65.000 liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan sepanjang musim kemarau tahun ini. Kecamatan Klangenan menjadi wilayah penerima bantuan terbanyak dengan total distribusi mencapai 37.000 liter.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, mengatakan bantuan tersebut telah menjangkau 3.031 kepala keluarga (KK) atau 10.095 jiwa di empat kecamatan yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Distribusi air bersih dilakukan secara terukur agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan,” ujar Syamsul, Selasa, 1 September 2026.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Cirebon, Kecamatan Klangenan menerima bantuan terbesar, yakni 37.000 liter air bersih yang didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan 2.063 KK atau 7.104 jiwa.
Selanjutnya, Kecamatan Sedong menerima 20.000 liter air bersih untuk 485 KK atau 1.610 jiwa. Sementara Kecamatan Talun mendapat 4.000 liter untuk 365 KK atau 620 jiwa, sedangkan Kecamatan Gegesik menerima 4.000 liter untuk 118 KK atau 761 jiwa.
Syamsul menjelaskan, penyaluran bantuan dilakukan melalui sejumlah tahapan untuk memastikan distribusi berjalan tepat sasaran. BPBD terlebih dahulu melakukan pendataan dan verifikasi lokasi terdampak sebelum menentukan kebutuhan air bersih di masing-masing wilayah.
Setelah data diverifikasi, pasokan air disiapkan dan dimasukkan ke dalam armada tangki untuk kemudian dikirim ke lokasi sesuai jadwal dan kebutuhan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, BPBD menerapkan lima tahapan pelayanan, mulai dari pendataan dan verifikasi lokasi, pengisian air ke armada tangki, pengiriman ke wilayah terdampak, distribusi kepada masyarakat, hingga monitoring dan evaluasi.
“Distribusi dilakukan langsung kepada masyarakat terdampak. Setiap penyaluran juga dicatat dan dievaluasi sebagai bahan pemantauan sekaligus menentukan kebutuhan bantuan berikutnya,” paparnya.
BPBD Kabupaten Cirebon akan terus memantau perkembangan kondisi kekeringan di sejumlah wilayah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya krisis air bersih selama musim kemarau.
Menurut Syamsul, pemantauan dan pendataan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan, terutama untuk memastikan masyarakat di wilayah terdampak tetap memperoleh akses terhadap kebutuhan dasar air bersih.
Melalui pola distribusi yang terukur dan berbasis kebutuhan di lapangan, BPBD berharap bantuan air bersih dapat meringankan beban masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan warga tetap terpenuhi selama kekeringan berlangsung.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















