by

Diduga Alami Gangguan Jiwa, Mayat Gandir di Pohon Nangka Gegerkan Masyarakat Desa Mulyasari

LOSARI, SC- Masyarakat Desa Mulyasari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon digegerkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki tergantung di pohon nangka di jalan sawah, Blok Pasaleman, di desa setempat, Selasa (12/11/2019) petang. Mayat yang diduga bunuh diri ini diketahui merupakan warga Blok Crukcuk, RT 02 RW 03, Desa Karang Dempel, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Kapolres Cirebon, AKBP Suhermanto melalui Kasub Bag Humas Polres Cirebon, Iptu Muchyidin, menyampaikan, sesosok mayat tersebut ditemukan sekitar pukul 18:30 wib dalam kondisi leher terikat kain selendang bermotif batik yang teruntai dari atas pohon nangka.

“Diketahui mayat bernama Jaya. Saat ditemukan, mayat dalam posisi tergantung di pohon nangka dengan jarak dari ujung tali ke tanah setinggi 304 cm. Sedangkan jarak antara tanah dengan kaki bagian bawah mayat setinggi 46 cm dan sudah dalam keadaan meninggal dunia,” paparnya.

Muchyidin menjelaskan, setelah dilakukan olah TKP, mayat dilarikan ke RSUD Waled untuk dilakukan autopsi, pemeriksaan luar. Setelah diperiksa, pada bagian mulut mayat berusia 25 tahun ini diketahui mengeluarkan cairan dengan kondisi lidah tergigit. Sedangkan pada bagian alat kelaminnya mengeluarkan air seni dan air mani. Selain itu, pada bagian dubur mayat pun mengeluarkan kotoran.

“Proses autopsi dilakukan oleh tim Inafis Polres Cirebon didampingi petugas dari Polsek Losari – Polres Cirebon, dan dari RSUD Waled. Setelah dilakukan pemeriksaan, di bagian tubuh mayat tidak ditemukan luka akibat benda tumpul. Kemudian jenazah diserahkan kepada pihak keluarga,” paparnya.

Ditambahkan Kasub Bag Humas Polres Cirebon, menurut keterangan yang didapat dari keluarga korban, setelah ditinggal orang tua laki-lakinya meninggal dunia, korban menunjukkan tanda-tanda kelainan jiwa.

“Menurut pihak keluarga, ada tanda-tanda gangguan jiwa pada korban, tepatnya sekitar dua bulan yang lalu sejak orang tua laki-lakinya meninggal dunia,” pungkasnya. (Kirno)

Comment