by

Penutupan Industri Ada Regulasi Khusus

SUMBER, SC- Paparan Covid-19 pada klaster industri di Kabupaten Cirebon membuat Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon merasa prihatin. Namun demikian, kemunculan klaster industri ini justru menuntut kewaspadaan lebih dari semua lapisan masyarakat.

Demikian disampaikan Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon, Alex Suheriyawan, di ruang kerjanya, Senin (16/11/2020). “Karena beberapa industri yang ada di Kabupaten Cirebon merupakan industri yang tingkat unrgenitasnya sangat tinggi. Harapan besar kami klaster ini tidak berkembang lebih lanjut, tentunya dengan antisipasi-antisipasi oleh industri itu sendiri maupun oleh Satgas Covid-19,” ujar Alex.

Ia mengindikasikan, penyebab paparan Covid-19 pada salah satu perusahaan di wilayah timur Cirebon itu ialah tingginya mobilitas atau pergerakan pekerja itu sendiri yang keluar masuk Kabupaten Cirebon. Pasalnya, selain memiliki pekerja yang cukup banyak, perusahaan tersebut juga banyak memiliki pegawai-pegawai kontrak dan pegawai yang mobilitasnya tinggi dengan keahlian khusus.

“Jadi, kadang mereka banyak juga datang dari daerah lain masuk kedaerah kita dan kembali lagi kedaerah luar, itu yang menjadi indikasi bahwa penyebabnya ya banyaknya mobilitas atau pergerakan orang itu sendiri, dari luar kedalam,” jelas Alex.

Meski demikian, kata Alex, Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon belum menentukan langkah penutupan industri tersebut seperti yang sudah dilakukan terhadap klaster lainnya, seperti klaster pasar. Alex menyebutkan, untuk industri tersebut akan ada regulasi khusus yang mengatur.

“Kalau masih diambang batas toleran, itu mungkin tidak akan dilakukan penutupan, apalagi memiliki tingkat urgensitas yang tinggi. Tapi apabila sudah diluar ambang toleran, mungkin (penutupan industri, red) itu bisa terjadi,” papar Alex.

Dijelaskan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon itu, saat ini Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon sudah berkomunikasi dengan pihak industri untuk mencari data yang lebih valid. Pihaknya juga sudah menjalin komunikasi dengan utusan industri tersebut dan meminta pihak industri melakukan verifikasi yang lebih faktual.

“Untuk tracing, karena memang ini bentuknya merupakan wabah yang signifikan akhirnya swab sudah mereka lakukan mandiri dan sudah ada hasilnya. Kesimpulannya, kita tinggal menindaklanjuti dari hasil swab yang sudah mereka lakukan,” terang Alex.

Setelah komunikasi terjalin, imbuh Alex, pihaknya bergarap agar pihak industri bisa melakukan sterilisasi lingkungan. Kemudian, pihak industri juga diharapkan bisa melakukan pembatasan area kerja yang sifatnya memang harus dilakukan dengan membuat wilayah kerja yang sekiranya harus dilakukan pembatasan kerja atau Work From Home (WFH). “Jadi, aktivitas tetap dilakukan tapi harus dibatasi,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, ledakan jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Cirebon kini muncul dari klaster industri. Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon pada Sabtu (14/11/2020) kemarin, merilis jumlahnya sebanyak 28 orang terkonfirmasi Covid-19. Mereka adalah para pekerja proyek pembangkit listrik PLTU 1 Cirebon.

Kepala Divisi Pelacakan dan Penanggulangan Covid-19, Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon, Hj Enny Suhaeni, mengatakan, hasil komunikasi Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon dengan pihak PT Cirebon Power, diketahui kronologisnya berawal dari salah satu karyawan yang saat itu sedang tidak bertugas, yakni pada 31 Oktober 2020.

Menurut Enny, karyawan tersebut (Suspect) melaporkan perihal gangguan indra penciuman yang dialaminya kepada atasannya. Suspect sendiri tinggal di daerah Trusmi kabupaten cirebon. Dimana, berdasarkan informasi, didaerah tempat tinggal Suspect pernah ada kasus positif. Namun, mengaku tidak ada riwayat kontak di daerah tempatnya tinggal tersebut.

“Mendapat laporan tersebut atasannya memerintahkan agar yang bersangkutan tetap dirumah, kemudian atasan melaporkan kepada bagian SDM,” ujar Enny, Sabtu (14/11/2020).

Kemudian, atas laporan tersebut bagian SDM merekomendasikan agar suspect melakukan tes usap di Rumah Sakit (RS) Pelabuhan Kota Cirebon, termasuk rekan satu timnya. Dan pada 1 November 2020 hasil tes usap menyatakan bahwa suspect terkonfirmasi positip Covid-19.

Dijelaskan Enny, dari temuan tersebut kemudian pihak perusahaan melakukan tracing terhadap pihak-pihak yang melakukan kontak erat dengan sucspect tersebut. Selanjutnya, dilakukan tes usap di RS pelabuhan dan akhirnya di didapati beberapa karyawan terkonfirmasi positif Covid-19.

“Pada hari Jumat 6 November 2020 perusahaan memutuskan untuk melakukan tes usap kepada seluruh pekerja yang ada di area PLTU Cirebon Unit 1. Lalu dilanjutkan dengan tes usap di perusahaan pada tanggal 10 sampai 12 November 2020,” papar Enny.

Dari hasil usap tersebut, lanjut Enny, sebanyak 28 orang dinyatakan terkonfimasi positif Covid-19. Setelah dilakukan tes usap kali kedua, dua orang dinyatakan sembuh sehingga per tanggal 13 November 2020 kasus aktif sebanyak 26 orang.

Kemudian, langkah selanjutnya perusahaan akan melakukan isolasi mandiri di tempat khusus untuk para pekerja yang terkonfirmasi positif. Namun hingga saat ini (Sabtu 14/11/2020), pihak perusahaan masih menunggu rekomendasi dari Satgas Penanganan Covid19 Kabupaten Cirebon.

Enny menyebutkan, pihak perusahaan juga mengklaim telah melakukan kebijakan bekerja dari rumah atau WFH untuk seluruh karyawan daily dan membatasi pekerja operasional pembangkit. “Saat ini area pembangkit telah steril dan pasokan listrik berjalan normal,” paparnya. (Islah)

Comment