by

Tanaman Liar Jadi Cuan

TUMBUHAN liar yang ada di pekarangan ternyata bisa memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan tumbuhan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah ini dilakukan Yayasan Wangsakerta yang beralamat di Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

Tanaman tersebut diperoleh dari ladang warga. Caranya cukup mudah, cukup memilih sejumlah tanaman lalu dibersihkan dan dijemur kemudian dikirim ke produsen obat herbal.

Pendiri Yayasan Wangsakerta, Farida Mahri mengungkapkan, permintaan tanaman herbal dari kota besar terutama Jakarta tergolong tinggi. Seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat mengurangi konsumsi bahan kimia. Sehingga, hal ini menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menambah penghasilan.

BACA JUGA: Ini Daftar Pelayanan Publik yang Mensyaratkan BPJS Kesehatan, Guru Besar IAIN Cirebon: Inpres Bukan Produk Hukum, Bisa Digugat ke MA

Menurut Farida, ada beberapa tanaman yang tumbuh liar namun diminati pasar. Tanaman itu mudah didapat lantaran tak perlu ditanam. Hanya dibiarkan tumbuh kemudian dirawat seperlunya.

Beberapa tanaman tersebut antara lain putri malu, sambiloto, sambung nyawa, bunga telang, daun kunyit, serei, dan lainnya. Tanaman-tanaman ini mudah sekali tumbuh di sembarang tempat. Sehingga, masyarakat tak sulit mendapatkannya.

“Tapi kalau di Jakarta nggak ada lahan. Jadi manfaatin lahan yang masih banyak di Cirebon untuk tanaman yang bisa jadi bahan herbal,” kata Farida, Ahad (6/3/2022).

Farida mengatakan, aneka tanaman tersebut dibeli oleh produsen obat herbal untuk beragam kebutuhan. Mulai dari suplemen untuk kekebalan tubuh sampai obat kuat.

BACA JUGA: Ternyata Calo Pukul Penumpang di Terminal Harjamukti Buat Karcis Sendiri dan Minta Ongkos Tak Wajar

Farida menjelaskan, pemanfaatan tanaman liar ini dalam jangka panjang bisa dijadikan sumber penghasilan tambahan bagi warga sekitar. Pasalnya, di sekitaran Saung Wangsakerta di Dusun Karangdawa, Setu Patok, Mundu, Cirebon masih banyak lahan yang ditumbuhi tanaman liar.

Sembari berkebun urus tanaman utama, warga bisa mencari tanaman herbal secara cuma-cuma. Kemudian dikumpulkan di Saung Wangsakerta untuk dikeringkan dan dikirim ke produsen obat herbal.

Meski baru merintis, olahan tanaman sebagai bahan dasar obat herbal sudah berhasil terkumpul. Di musim hujan tanaman-tanaman ini tumbuh subur. Namun pengeringannya masih terkendala minimnya sinar matahari.

Farida berencana, jika permintaan tanaman ini stabil maka bakal digunakan sistem pengering otomatis. Pasalnya, di Suang Wangsakerta juga telah mampu memproduksi alat untuk mempermudah pekerjaan di bidang pertanian dan peternakan.

Di sisi lain, Akademisi IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Wakhit Hasim mengungkapkan, kerja-kerja di bidang pemberdayaan sosial bisa dimulai dari pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. Pemanfaatan tanaman liar bisa jadi alternatifnya.

BACA JUGA: Tawuran, 32 pelajar di Cirebon Diamankan Polisi

Di samping itu, kolaborasi antar pegiat sosial juga perlu dilakukan. Hal itu guna membangun jejaring berbasis kesadaran terhadap pentingnya pemberdayaan masyarakat desa. Dengan begitu, kerja-kerja sosial akan semakin solid dan organik.

Menurut Wakhit, kerja-kerja sosial tak bisa berlandaskan kepentingan profit bagi pegiatnya. Kerja sosial harus didasarkan pada kesamaan perspektif.

Kalau orientasinya materi, sebuah tim bisa bubar dengan mudah. Di sinilah pentingnya membangun sistem yang orientasinya pada kepentingan bersama membangun masyarakat,” ujar Wakhit. (Arif)

Comment