SUARA CIREBON – Kereta lori masih digunakan oleh Pabrik Gula (PG) Rajawali Sindanglaut untuk mengangkut tebu dari area pengumpulan menuju bangunan utama pengolahan.
Penggunaan kereta lori ini bahkan cukup ikonik hingga menjadi khas pabrik gula tersebut. Pihak PG Rajawali Sindanglaut tetap mempertahankan kereta yang mengandalkan teknologi peninggalan kolonial Belanda di tengah modernisasi pabrik gula.
Alasan untuk mempertahankan penggunaan kereta lori diungkapkan oleh General Manager PG Rajawali Sindanglaut, Roni Kurniawan. Ia mengatakan, penggunaan kereta lori tetap dipertahankan karena efektivitasnya dalam mengangkut ribuan batang tebu ke pabrik utama.
Meskipun mempertahankan desain lama, PG Rajawali Sindanglaut telah melakukan sejumlah pembaruan pada sistem penggeraknya. Kereta lori yang dirancang sejak zaman kolonial Belanda ini dibuat untuk mempermudah aksesibilitas tebu ke pabrik.
“Sistem ini masih menjadi pilihan terbaik,” ujar Roni Kurniawan, Rabu, 19 Februari 2025.
Menurut Roni, saat ini bahan bakar mesin kereta lori telah beralih menggunakan bahan bakar minyak. Peralihan penggunaan bahan bakar tersebut lantaran dinilai lebih ramah lingkungan dan efisien, ketimbang menggunakan tenaga uap dari pembakaran kayu yang dilakukan sebelumnya.
“Awalnya kereta lori ini menggunakan tenaga uap dari pembakaran kayu. Perubahan ini membuat operasional lebih mudah serta mengurangi dampak lingkungan,” kata Roni.
















