SUARA CIREBON – Ketidakhadiran Wakil Bupati (Wabup) Cirebon, H Agus Kurniawan Budiman (Jigus) dan Sekretaris Daerah (Sekda), Hilmi Rivai saat prosesi pengambilan sumpah jabatan puluhan pejabat administrator, pengawas dan fungsional yang dilakukan Bupati Cirebon, H Imron di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Selasa, 20 Mei 2025, memunculkan sejumlah pertanyaan publik.
Absennya, wakil bupati dan sekda pada momen pelantikan pejabat tersebut, memicu pertanyaan dan spekulasi mengenai hubungan dan pola komunikasi yang tengah terjadi. Pasalnya, kehadiran pejabat dalam momen-momen penting pemerintahan kerap kali dinilai sebagai indikator stabilitas dan kerja sama antarpucuk pimpinan.
Seperti yang disampaikan Sekretaris DPD Partai NasDem Kabupaten Cirebon, H Dade Mustofa Efendi, yang mengaku kecewa atas apa yang ia sebut sebagai lemahnya semangat kolektif dalam pengambilan keputusan strategis.
“Rotasi dan mutasi pejabat bukan sekadar agenda administratif, tetapi bagian dari rekonstruksi birokrasi yang harus dibangun atas dasar kebersamaan dan komunikasi terbuka antarpemimpin. Kalau sampai tidak diundang (dalam pelantikan, red), ini mencederai etika pemerintahan dan semangat kolegialitas dalam kepemimpinan daerah,” kata Dade, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon oleh sejumlah awak media, Rabu, 21 Mei 2025.
Ketidakhadiran wakil bupati (wabup) yang akrab disapa Jigus itu, lanjut Dade, memunculkan dugaan, yang bersangkutan tidak dilibatkan dalam proses mutasi, rotasi dan promosi puluhan pejabat administrator, pengawas dan fungsional tersebut.
“Kami bukan hanya kecewa, tapi juga khawatir, pola komunikasi seperti ini bisa merusak harmoni pemerintahan yang baru berjalan,” ujarnya
Menurut Dede, permasalahan ini bukan sekadar soal politis, tapi soal tata kelola pememrintahan yang baik. Sebagai bagian dari koalisi partai pengusung, NasDem merasa keputusan itu berpotensi mengingkari semangat kebersamaan yang telah dibangun bersama PDIP dan Hanura pada Pilkada 2024 lalu.
“Kegagalan komunikasi internal yang pernah terjadi di periode pertama Bupati Imron tidak terulang kembali. Pemerintahan ini masih seumur jagung,” katanya
















