SUARA CIREBON – Bengkel bubut milik Muhaimin, warga Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, itu hanya berukuran 1m x 2m, cukup minimalis untuk sebuah bengkel kerja. Namun, dari bengkel berukuran minimalis itu, terbentuk tasbih (alat bantu hitung zikir) kayu nagasari yang banyak dicari.
Di Cirebon dan sekitarnya, kayu nagasari kerap tumbuh di sekitar makam-makam keramat. Karenanya, banyak yang meyakini, kayu nagasari memiliki nilai spiritual dan kekuatan magis untuk menangkal energi negatif, ilmu hitam dan santet.
Di tangan Muhaimin, kayu yang saat ini tergolong cukup sulit diperoleh itu, diubah menjadi butiran-butiran biji tasbih. Selain menjadi alat bantu untuk berzikir (tasbih), kayu nagasari juga kerap dijadikan perhiasan gelang.
Muhaimin merupakan salah satu perajin tasbih dan gelang kayu nagasari yang masih bertahan hingga saat ini. Tidak sedikit perajin tasbih dan gelang kayu nagasari yang memilih gulung tikar, karena susahnya pemasaran dan sulitnya bahan baku.
“Saya menggeluti kerajinan tasbih dan gelang kayu nagasari ini sejak muda, sampai sekarang. Untuk omzet alhamdulillah ada saja tiap bulannya, walaupun tidak banyak,” ujar Muhaimin saat ditemui, Jumat, 28 November 2025.
Muhaimin mengaku untuk bahan baku, sekarang ini sangat sulit sekali didapat, karena populasi kayu nagasari yang tidak begitu banyak.
“Kalau bahan baku masih dari sekitar Cirebon, tapi kan sudah mulai jarang. Biasanya bahan baku kayu nagasari ini ada yang nganterin, harganya juga mulai mahal,” katanya.
Untuk pemasangan, pria yang pernah menjadi perangkat desa tersebut hanya mengandalkan marketplace di media sosial saja. Dirinya mengaku belum berani menggunakan toko online (e-commerce).
















