SUARA CIREBON – Kasus influenza musiman yang disebabkan oleh varian virus influenza A(H3N2) subclade K ditemukan meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah kasus tertinggi adalah Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, dr H Moh Lutfhi, mengatakan, influenza A(H3N2) subclade K dikenal dengan sebutan “superflu (super flu)”. Berdasarkan laporan, lanjut Luthfi, dari 62 kasus influenza A(H3N2) di Indonesia, sebanyak 10 kasus ditemukan di Jawa Barat.
Lutfhi mengatakan, munculnya varian baru influenza ini, kembali menjadi perhatian publik usai Kementerian Kesehatan melaporkan puluhan masyarakat terjangkit “super flu”.
Di Jawa Barat, seluruh kasus tersebut telah melalui pemeriksaan lanjutan menggunakan metode whole genome sequencing mendalam. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan jenis dan karakteristik virus secara lebih mendalam.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, ada 10 pasien di Jawa Barat yang telah diperiksa dan hasilnya menunjukkan positif setelah dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing,” kata Luthfi dalam keterangannya, Senin, 5 Januari 2026.
Meski demikian, IDI Jawa Barat belum dapat memaparkan secara rinci lokasi atau wilayah persebaran kasus super flu tersebut.
Lutfhi menjelaskan, pengumpulan data, pemetaan wilayah, serta pelacakan penularan merupakan ranah Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama Kementerian Kesehatan.
“Kami belum menerima data detail terkait sebaran wilayahnya. Biasanya surveilans epidemiologi menjadi kewenangan Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan,” ujarnya.
Di tengah kekhawatiran masyarakat, Lutfhi menekankan pentingnya meluruskan istilah “super flu” yang ramai digunakan.
Menurutnya, istilah tersebut bukanlah terminologi medis resmi. Dalam dunia kedokteran, kondisi tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai influenza like illness (ILI), yakni kumpulan gejala flu yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus.
“ILI ini tidak selalu disebabkan oleh satu virus tertentu. Bisa karena virus influenza, tapi juga bisa dipicu oleh virus lain seperti rhinovirus, parainfluenza, atau jenis virus pernapasan lainnya,” terangnya
Luthfi menambahkan, virus influenza memiliki beberapa tipe utama, di antaranya H1N1 dan H3N2. Di Indonesia, tipe H3N2 justru lebih sering ditemukan dibandingkan tipe lainnya. Adapun subclade K yang saat ini terdeteksi merupakan hasil mutasi dari H3N2.
“Mutasi ini memang ada, tetapi perubahannya tidak bersifat ekstrem. Karakteristiknya relatif mirip dengan virus influenza lain yang selama ini sudah dikenal,” jelasnya.
Berdasarkan karakter tersebut, IDI Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik berlebihan. Dari sisi tingkat keparahan, influenza varian ini dinilai tidak jauh berbeda dengan flu pada umumnya. Perbedaannya terletak pada kemampuan penularan yang cenderung lebih cepat.
“Ini pada dasarnya masih virus flu biasa. Tidak perlu disikapi seperti pandemi Covid-19 karena jenisnya sangat berbeda. Tingkat bahayanya pun hampir sama dengan virus flu lainnya, hanya saja penyebarannya bisa lebih cepat,” tutur Lutfhi.
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga daya tahan tubuh, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala flu yang berat atau berkepanjangan. Dengan kewaspadaan yang tepat, risiko penyebaran dapat ditekan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















