SUARA CIREBON – Produksi beras yang dihasilkan lahan pertanian Kabupaten Cirebon pada tahun 2025 lalu, tercatat mengalami penurunan signifikan. Tercatat, total produksi beras hanya mencapai 296.416 ton, atau turun sekitar 42.613 ton dari target yang telah ditetapkan.
Meski turun signifikan dari target yang ditetapkan, namun Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, memastikan ketersediaan beras aman, karena Kabupaten Cirebon tetap berada dalam status surplus.
Deni menjelaskan, secara teknis produktivitas padi di Kabupaten Cirebon cukup bagus. Menurutnya, penurunan produksi bukan disebabkan oleh menurunnya produktivitas tanaman padi, melainkan akibat pergeseran waktu panen yang dipicu oleh kondisi iklim yang tidak menentu sepanjang 2025.
Kondisi tersebut, imbuh Deni, menyebabkan realisasi panen tidak sesuai dengan proyeksi awal.
“Terjadi pergeseran waktu panen karena faktor iklim, sehingga realisasi panen tidak sesuai dengan proyeksi awal,” ujar Deni, Jumat, 9 Januari 2026.
Berdasarkan data terbaru yang dirangkum Distan, penurunan produksi beras dipengaruhi turunnya realisasi gabah kering giling (GKG). Di mana, produksi GKG berada di bawah target dengan selisih penurunan sebesar 66.469 ton.
Deni menegaskan, kebutuhan konsumsi masyarakat masih terpenuhi meski produksi mengalami penurunan. Selama periode Januari hingga Oktober 2025, kebutuhan beras di Kabupaten Cirebon tercatat sekitar 229.310 ton.
“Dengan produksi 296.416 ton, Kabupaten Cirebon masih mengalami surplus sekitar 67.106 ton. Dari sisi konsumsi, kondisi ini masih aman,” terangnya.
Namun, Deni menegaskan, surplus tersebut perlu disikapi secara hati-hati. Jika tren penurunan produksi terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan berdampak terhadap ketahanan pangan daerah di masa mendatang.
“Jika penurunan ini berulang dan tidak diantisipasi, tentu ke depan akan berpengaruh meskipun aman untuk saat ini,” tegasnya.
Menurut Deni, penurunan produksi juga dipengaruhi oleh menyusutnya luas panen padi. Sepanjang 2025, luas panen hanya mencapai 74.778 hektare, turun sekitar 11.602 hektare dibandingkan target seluas 86.380 hektare. Padahal, luas tanam padi justru melampaui target. Pada 2025 lalu, luas tanam padi mencapai 92.489 hektare, lebih tinggi dari target awal sebesar 90.926 hektare.
Distan Kabupaten Cirebon kini memperkuat sejumlah langkah strategis, mulai dari pengendalian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), optimalisasi kalender tanam, hingga perbaikan infrastruktur pertanian. Hal itu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan produksi beras.
“Kami berupaya memastikan agar ke depan waktu panen bisa lebih tepat dan produksi beras tetap berkelanjutan,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















