SUARA CIREBON – Nasib pilu dirasakan seorang balita berusia delapan bulan di Desa Getrakmoyan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Fawwas Rosdiana. Tangisnya kerap memecah keheningan di rumah sederhana orang tuanya.
Anak kedua yang terlahir kembar dari pasangan Viantika dan Asep Rosdiana itu harus menahan rasa sakit akibat penyakit langka yang dideritanya sejak lahir, atresia bilier yakni kondisi saluran empedu bayi yang tidak terbentuk dengan normal atau tersumbat akibat kelainan genetik.
Selain atresia bilier, Fawwas Rosdiana juga menderita hernia, kondisi yang memaksa bayi tersebut menjalani rangkaian pengobatan berat di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan keceriaan.
Di tengah keterbatasan ekonomi, sang ayah, Asep yang berkerja sebagai sopir pabrik dengan penghasilan pas-pasan, dan istrinya harus berjuang keras demi kesembuhan buah hati mereka.
Menurut Viantika, Fawwas telah menjalani dua kali operasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung sejak beberapa bulan lalu. Operasi pertama dilakukan untuk memasang saluran empedu sebagai penanganan awal atresia bilier. Kemudian disusul operasi kedua untuk mengatasi hernia yang juga dideritanya.
Dari dua meja operasi tersebut, perjuangan keluarga tersebut belum berakhir. Usai menjalani operasi, kondisi Fawwas justru menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Perutnya mengalami pembengkakan hebat hingga mencapai diameter sekitar 58 sentimeter.
Viantika mengatakan, perut sang anak terus membesar dan membuat Fawwas sering menangis dalam waktu lama akibat menahan rasa sakit.
“Kalau sudah sakit, dia nangisnya lama sekali dan kami hanya bisa menggendong saja,” ujar Viantika dengan mata berkaca-kaca, Senin, 12 Januari 2026.
Menurut tim medis, imbuh Viantika, satu-satunya jalan agar Fawwas dapat bertahan hidup, tumbuh sehat, dan berkembang normal seperti anak-anak seusianya, harus dilakukan transplantasi hati. Namun, jalan menuju transplantasi bukanlah hal mudah mengingat orang tua Fawwas merupakan keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Orang tua Fawwas berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah. Meski sebagian biaya pengobatan dapat ditanggung BPJS Kesehatan, proses transplantasi hati, khususnya bagi pendonor, membutuhkan biaya besar.
Biaya besar tersebut belum termasuk biaya operasional, akomodasi, dan kebutuhan lain selama proses pengobatan yang tidak sepenuhnya terkover.
“Alhamdulillah sejauh ini Pemerintah Desa Getrakmoyan bersama masyarakat telah melakukan penggalangan dana di dua blok wilayah desa,” kata Viantika.
Kuwu Getrakmoyan, Junandi, mengatakan, aksi solidaritas pemdes ini merupakan bentuk empati warga terhadap penderitaan Fawwas dan keluarganya.
“Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan beban orang tua Fawwas, meski kami sadar biaya pengobatan yang dibutuhkan sangat besar,” ujarnya.
Di usia yang masih sangat belia, Fawwas kini bergantung pada uluran tangan banyak pihak. Di balik tubuh kecilnya, tersimpan harapan besar agar ia dapat melewati masa kritis ini dan kelak tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, dan penuh senyum.
Atresia bilier sendiri merupakan kelainan bawaan pada bayi baru lahir. Di mana saluran empedu tidak terbentuk sempurna atau tersumbat. Penyakit ini menyebabkan cairan empedu tidak dapat mengalir dengan baik sehingga merusak organ hati secara perlahan. Tanpa penanganan optimal, atresia bilier dapat berujung pada gagal hati.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















