SUARA CIREBON – Kondisi tebing Sungai Cikanci di Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon semakin mengkhawatirkan. Proses erosi tebing yang terus berlanjut, tidak hanya mengancam akses alternatif penghubung beberapa desa di kawasan tersebut, tetapi juga kawasan permukiman penduduk di sekitar lokasi.
Kuwu Buntet, Edi Suhaedi mengatakan, jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat dan menyeluruh, pengikisan tebing sungai berpotensi menimbulkan kerusakan lebih luas yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat sekitar sungai.
“Pengikisan tebing Sungai Cikanci ini menjadi masalah yang menghantui warga Desa Buntet, sejak tahun 2018. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kondisinya semakin memburuk akibat derasnya arus sungai yang menggerus bagian bawah tebing. Sedikit demi sedikit tanah di sekitar sungai makin tergerus dan berisiko longsor kapan saja,” kata Kuwu Edi, Senin, 9 Februari 2026.
Akibat erosi tersebut, lanjut Edi, tidak hanya struktur tanah tebing yang terancam, tetapi juga berdampak langsung pada aksesibilitas wilayah sekitar.
“Kami telah mengajukan perbaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan pihak dinas terkait juga sudah melakukan survei, tetapi hingga kini belum ada realisasi,” ujarnya.
Pihaknya telah melakukan upaya perbaikan dengan menggunakan cerucuk bambu sebanyak dua kali, dengan biaya mandiri. Namun, setiap kali musim hujan tiba dan terjadi banjir, semua usaha yang dilakukan tersebut hancur dan kembali ke kondisi semula.
“Saat ini, kondisi longsor semakin parah. Saya juga sudah mengajukan permohonan kepada pihak terkait,” jelas Edi.
Ia mengaku sangat berharap kepada dinas terkait dan Pemerintah Kabupaten Cirebon dapat memberikan perhatian serius terhadap permasalahan tersebut. Terlebih, jalur yang terancam longsor memiliki peran penting sebagai penghubung antara dua hingga tiga desa, yaitu Desa Kanci Wetan dan Desa Kanci Kulon.
















