SUARA CIREBON – Pengurus Klenteng Hok Keng Tong atau Vihara Dharma Sukha, Desa Weru Kidul, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, mulai menggelar rangkaian ritual keagamaan jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Salah satu ritual awal yang telah dilaksanakan adalah upacara Bwee Gwee pada tanggal 16 bulan 12 (capjigwee caplak) lunisolar (kalender Tionghoa, red) yakni sembahyang syukur penutup tahun.
Ketua Yayasan Vihara Dharma Sukha, Kusnadi Halim, menjelaskan, Bwee Gwee merupakan ritual persembahyangan sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada para dewa, khususnya Dewa Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi) yang bersemayam di altar klenteng.
“Intinya, Bwee Gwee adalah ucapan terima kasih. Selama setahun kami diberi kesehatan, rezeki, kelancaran usaha, meski tentu banyak kendala yang dihadapi,” ujar Kusnadi Halim, Rabu, 11 Februari 2026.
Selain sebagai ungkapan syukur, lanjut Kusnadi, ritual Bwee Gwee juga diyakini sebagai momen menghantarkan para dewa naik ke langit untuk menyampaikan laporan kepada Kaisar Langit, terkait perilaku dan kehidupan umat manusia selama setahun terakhir.
“Oleh karena itu, persembahan yang disajikan didominasi oleh makanan manis. Kita kasih persembahan yang manis-manis, seperti dodol, permen, dan manisan lain. Harapannya, dewa juga menyampaikan laporan yang manis-manis tentang umatnya,” ungkapnya.
Dalam rangkaian Bwee Gwe, imbuh Kusnadi, terdapat tradisi Cap Jie Gwee Jie Shie (tanggal 24 bulan ke-12), yang menandai dimulainya masa persiapan Imlek.
“Setelah diyakini para dewa meninggalkan altar, pihak klenteng melakukan bersih-bersih besar-besaran, mulai dari bersih-bersih patung, altar, sampai mengecat ulang tembok yang sudah kusam, karena dipercaya di masa ini altar dalam keadaan kosong, jadi ini waktu yang tepat untuk bersih total,” katanya
Setelah seluruh persiapan selesai, menurut Kusnadi, umat akan melaksanakan sembahyang malam Tahun Baru Imlek atau malam Ce It.
“Tahun ini, Imlek memasuki tahun 2577 Kongzili yang dihitung berdasarkan kelahiran Nabi Kongzi (Konghucu),” ujarnya.
Menurutnya, pada hari pertama Imlek, klenteng biasanya relatif sepi karena umat lebih banyak berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, dan mengunjungi orang tua. Aktivitas di klenteng kembali ramai pada hari keempat Imlek, saat dilaksanakan ritual penyambutan turunnya kembali para dewa ke altar.
“Di tanggal 4 itu, klenteng sudah bersih, lampion terpasang, semuanya rapi. Dewa dipersilakan kembali duduk di altar,” ungkapnya.
Rangkaian perayaan Imlek ditutup dengan sembahyang Tikong pada malam tanggal 8 menuju 9 Imlek, tepat pukul 00.00. Dalam ritual ini tebu menjadi perlengkapan wajib yang diletakkan di sisi kiri dan kanan altar.
“Tebu itu simbol perlindungan, ada sejarahnya dari Tiongkok, saat orang-orang bersembunyi di kebun tebu untuk menghindari kejaran penguasa atau perampok dan selamat. Itu yang dipercaya sampai sekarang,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















