SUARA CIREBON – Banjir yang menerjang wilayah timur Kabupaten Cirebon, sejak Kamis, 12 Februari 2026 dinihari, terus meluas. Sejumlah desa di tiga kecamatan yakni Kecamatan Pasaleman, Ciledug, dan Kecamatan Losari, terendam luapan Sungai Cijangkelok dan Sungai Cisanggarung.
Ketinggian air di sejumlah desa yang terdampak bervariasi, mulai 60 centimeter hingga 1 meter. Bahkan, di Desa Cilengkrang, ketinggian air mencapai 1,5 meter hingga menenggelamkan rumah dan perabotan.
Kapolsek Losari, AKP Sugiono, mengatakan, empat desa di Kecamatan Losari yang terdampak banjir luapan Sungai Cisanggarung yakni Desa Barisan, Losari Kidul, Mulyasari dan Desa Tawangsari. Ratusan rumah warga di empat desa itu terendam banjir dengan ketinggian bervariasi
Menurut Kapolsek, banjir disebabkan luapan Sungai Cijengkelok yang bermuara ke Sungai Cisanggarung. Menurut Sugiono, debit air yang masuk ke dalam sungai melebihi kapasitas normal hingga akhirnya meluap.
“Debit air mencapai 700 meter kubik per detik, sementara batas normalnya hanya 250 meter kubik per detik. Kondisi ini diperparah dengan belum tertanganinya Blok Pon oleh proyek peninggian tanggul Sungai Cisanggarung,” kata AKP Sugiono.
Luapan Sungai Cijalengkok menyebabkan puluhan rumah di tiga RT Desa Barisan terendam banjir dengan ketinggian 50 centimeter.
“Saat ini air sudah mulai surut, namun kami mencatat sekitar 50 rumah dari tiga RT telah terendam, dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 centimeter,” ujarnya.
Sugiono menyebut, kondisi tanggul yang bocor di sejumlah titik menyebabkan air sungai merembes dan memicu banjir.
“Untuk di Losari Kidul dan Mulyasari, banjir disebabkan oleh rembesan dari tanggul yang telah dibangun,” ucapnya.
Pihaknya telah berkoordinasi lintas sektoral dengan pimpinan PT Bumi Karsa, perusahaan yang menangani proyek peninggian tanggul Sungai Cisanggarung, untuk melakukan langkah-langkah penanganan. Salah satu langkah yang diambil adalah menyiapkan tumpukan pasir dalam karung untuk menutup Blok Pon yang mungkin akan terdampak di masa mendatang, dengan mendatangkan dua ekskavator.
“Kami berkoordinasi juga dengan PLN untuk memastikan gardu induk PLN di Desa Barisan tetap aman dan pemadaman listrik dapat segera diatasi,” katanya.
Terpisah, Kuwu Losari Kidul, Moh Rakhmad, menjelaskan penyebab utama banjir di desanya bukanlah luapan air sungai, melainkan rembesan dari tanggul yang bocor di beberapa titik.
“Mengenai penyebab banjir, kami menyimpulkan dari rembesan tanggul yang bocor. Itu adalah faktor utama, jadi bukan karena luapan sungai,” kata Rakhmad.
Rakhmad menyebut, terdampak banjir parah berada di blok kepudang RT 16 hingga RT 19 dengan ketinggian air banjir saat ini berkisar antara 50 hingga 70 centimeter. Banjir mengakibatkan sekitar 250 rumah terendam.
“Dampak banjir ini mengakibatkan sekitar 250 rumah terendam, meskipun demikan warga tidak ada yang mengungsi, karena kejadian ini menjadi hal yang rutin setiap musim hujan dan di saat debit air Sungai Cisanggarung tinggi, ” kata Rakhmad.
Sementara itu, warga Blok Pon, Desa Barisan, Nanang, menuturkan, banjir mulai masuk ke permukiman Rabu, 11 Februari 2026 malam sekitar pukul 21.30 WIB.
“Air datang dari arah selatan hingga setinggi tanggul Cisanggarung. Air pun akhirnya meluap ke permukiman, sementara di atas ada proyek tanggul yang sedang dikerjakan, sehingga tidak sempat ditangani,” kata Nanang.
Nanang memperkirakan ketinggian air mencapai sekitar setengah meter atau di atas lutut orang dewasa.
“Kami berharap proyek peninggian tanggul Sungai Cisanggarung segera diselesaikan. Kami juga minta agar sistem drainase diperbaiki, untuk mencegah rembesan air ke permukiman saat sungai meluap. Dengan penanganan yang terpadu dan tepat, diharapkan kejadian banjir tidak terulang lagi di masa mendatang,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















