SUARA CIREBON – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon menyatakan tidak akan melakukan penutupan jalan yang digunakan untuk lokasi Festival Ramadan yakni Jalan Siliwangi.
Kepala Dishub Kota Cirebon, Andi Armawan mengatakan, keputusan ini diambil berdasarkan hasil rapat koordinasi untuk memastikan keseimbangan antara dukungan terhadap pelaku UMKM dan hak pengguna jalan. Andi menjelaskan, rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan bersifat situasional.
“Kita tidak akan lakukan penutupan, tetapi manakala terjadi kemacetan di titik lain yang berdampak ke jalur tersebut, kita akan coba rekayasa buka-tutup,” kata Andi saat dikonfirmasi, Senin, 23 Februari 2026.
Pemerintah Kota Cirebon menekankan pentingnya memberikan ruang bagi publik dan pedagang kaki lima (PKL) tanpa mengorbankan kenyamanan pejalan kaki maupun pengendara.
Langkah ini sejalan dengan arahan Wali Kota Cirebon, Effendi Edo agar setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) menjalankan fungsinya masing-masing secara optimal.
“Fungsi kami adalah lalu lintas, bagaimana menciptakan kenyamanan, ketertiban, dan kelancaran,” tambah Andi.
Secara teknis, area operasional Festival Ramadan Kota Cirebon yakni panjang jalur sekitar 1,7 kilometer, membentang dari Pasar Kramat hingga Jembatan Sukalila (Jalan Siliwangi).
Dengan lebar Jalan Siliwangi antara 15 hingga 17 meter, area tenda sekitar 2 meter di sisi kiri dan kanan jalan (total 4 meter), tersisa ruang sekitar 6 hingga 7 meter yang dapat dimanfaatkan untuk jalur drive-thru, pejalan kaki, serta kendaraan roda empat dari dua arah.
Rekayasa lalu lintas sementara akan segera diberlakukan jika terjadi kepadatan mendadak akibat dampak arus lalu lintas dari titik lain, seperti area Jalan Kartini atau titik macet lainnya.
Seperti diketahui, Pemerintah Kota Cirebon memfasilitasi 498 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berjualan di sepanjang Jalan Siliwangi selama Ramadan 1447 Hijriah. Kebijakan tersebut dikemas dalam Festival Ramadan yang dipusatkan di kawasan inti kota dan mulai berjalan sejak hari pertama puasa.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menyatakan program ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam menjaga perputaran ekonomi lokal pada momentum meningkatnya konsumsi masyarakat. Seluruh perangkat daerah, kata dia, telah berkoordinasi untuk memastikan kesiapan teknis, mulai dari penataan lapak hingga pengaturan arus lalu lintas.
“Sebanyak 498 lapak yang terdata menjajakan beragam produk, seperti makanan berbuka puasa, minuman, jajanan tradisional, hingga busana muslim. Aktivitas perdagangan berlangsung setiap hari mulai pukul 15.00 WIB hingga 04.00 WIB,” ujar Edo, Sabtu, 21 Februari 2026.
Pemerintah menilai rentang waktu tersebut sebagai periode dengan potensi transaksi tertinggi, terutama menjelang berbuka dan setelah salat tarawih.
Sejak hari pertama, ratusan warga tumpah ruah memadati kawasan tersebut untuk berburu takjil dan kuliner khas Ramadan yang dijajakan pedagang di Festival Ramadan sepanjang Jalan Siliwangi, mulai dari depan Pasar Pagi hingga mendekati Perempatan Krucuk.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















