SUARA CIREBON – Dugaan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang jauh dari standar ketentuan, kembali ramai disuarakan para orang tua siswa penerima manfaat di Kabupaten Cirebon.
Para orang tua itu mempertanyakan apakah menu makanan yang diterima anak-anaknya, benar-benar mencerminkan tujuan besar program tersebut.
Seperti diketahui, program MBG yang dicanangkan Presiden Prabowo digadang-gadang menjadi salah satu proyek strategis untuk meningkatkan kualitas generasi masa depan Indonesia, melalui perbaikan dan pemenuhan gizi balita, ibu hamil dan anak usia sekolah mulai TK, SD hingga SMA/SMK sederajat.
Namun, di lapangan, persoalan yang muncul tidak selalu seindah laporan resmi sebagaimana disampaikan Badan Gizi Nasional (BGN) kepada Presiden.
Setelah sebelumnya dikeluhkan warga Plumbon, Kabupaten Cirebon, persoalan menu MBG juga disuarakan orang tua siswa di wilayah timur Kabupaten Cirebon, Sri Yunsari. Sri mengunggah menu MBG yang diterima anaknya di media sosial Facebook.
Dalam video tersebut, Sri memperlihatkan isi paket makanan yang menurutnya jauh dari harapan. Dengan nada emosional dalam bahasa Cirebon, ia mempertanyakan bagaimana anaknya bisa sehat jika makanan yang diterima dinilai tidak layak.
Dari unggahan Sri diketahui, menu MBG yang diterima berupa roti, susu kotak kecil, buah jeruk dan satu snack kering.
Senada, orang tua siswa salah satu sekolah dasar negeri (SDN) di Kecamatan Depok, Faizal, mengatakan, pembagian MBG di bulan Ramadan dinilai tidak sebanding dengan besaran anggaran MBG yang ditetapkan pemerintah.
Ia menyebut menu yang diterima anaknya selama tiga hari berturut-turut tidak berubah, yakni roti, kacang, susu kotak, dan kurma.
”Saya sebagai orang tua memprotes keras pendistribusian menu MBG tiga hari ini, karena kalau dihitung nilainya paling mahal sekitar tujuh ribuan,” ujar Faizal, Kamis, 26 Februari 2026.
Faizal juga menyoroti keseragaman menu untuk seluruh jenjang kelas, dari kelas I hingga VI. Padahal, menurutnya, besaran anggaran MBG berbeda untuk setiap jenjang.
“Menunya disamaratakan, padahal anggarannya berbeda. Anak saya kelas 4 SD, dapat menunya tiga hari ini, roti, kacang, susu kotak, dan kurma yang kalau dinilai paling mahalnya hanya Rp7.000 saja,” katanya.
Sebagai orang tua, Faizal menegaskan, ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon dan instansi penegak hukum menindak tegas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalahgunakan ketentuan standar menu MBG demi keuntungan pribadi.
“Kami berharap Pemkab Cirebon, kepolisian dan kejaksaan jangan tutup mata. Tindak tegas permainan kotor SPPG-SPPG tersebut,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG selaku penyelenggara MBG di Kabupaten Cirebon terkait keluhan para orang tua tersebut.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















