SUARA CIREBON – Tumpukan sampah di pinggir jalan Nyimas Endang Geulis di wilayah Kecamatan Panguragan dikeluhkan pengendara yang melintas.
Selain menimbulkan bau tak sedap, kondisi tumpukan sampah juga memenuhi hampir separuh badan jalan sehingga mengganggu lalu lintas.
Kondisi tersebut, membuat masyarakat merasa tidak nyaman melintasi ruas jalan tersebut. Tumpukan sampah tersebut bahkan bisa membahayakan pengendara ketika usai diguyur hujan.
Seorang pengendara, Cecep Nacepi (34) mengatakan, tumpukan sampah yang memanjang hingga lebih dari 100 meter itu terjadi sejak lama. Dalam catatannya, sampah di lokasi tersebut sudah menggunung sekira lebih dari lima tahun.
Ia menjelaskan, tumpukan sampah tersebut berada di wilayah perbatasan antara Panguragan Wetan dan Panguragan Kulon.
“Secara administrasi, lokasi gunungan sampah itu masuk ke wilayah Desa Panguragan Wetan, tapi warga di sekitarnya merupakan penduduk Panguragan Kulon, ” ujar Cecep, Senin, 2 Maret 2026.
Warga Desa Lemahtambah itu menambahkan, kondisi tumpukan sampah tersebut sudah dilaporkan ke pihak desa, pihak kecamatan hingga ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Namun, hingga saat ini belum ada langkah penanganan yang konkrit dari pihak-pihak yang berwenang tersebut.
“Tapi sampai sekarang belum ada tindakan atau penanganan,” kata Cecep.
Ia berharap, setidaknya pemerintah daerah bukan hanya berupaya membersihkan sampahnya, tapi juga lebih memperkuat pemahaman masyarakat tentang kebersihan lingkungan.
“Mengedukasi masyarakat dengan melibatkan masyarakat saya kira hal yang baik,” paparnya.
Menanggapi adanya ratusan ton sampah liar hingga “memakan” badan jalan di wilayah tersebut, DLH Kabupaten Cirebon mengakui penanganannya terkendala sejumlah faktor, mulai dari keterbatasan armada hingga kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang sudah melebihi kapasitas.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono melalui Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan, Suyanto mengatakan, saat ini pihaknya terbentur kondisi TPA Gunungsantri yang sudah overload.
Selain itu, alat berat di TPA juga sering mengalami kerusakan sehingga menyebabkan truk pengangkut harus mengantre lama. Akibatnya, proses pengangkutan pun jadi tidak maksimal.
Menurut Suyanto, penanganan sampah juga harus dilakukan secara bertahap mengingat banyaknya titik TPS liar yang harus segera dibersihkan.
“Kita baru saja melakukan pengangkutan di wilayah Pantura Arjawinangun, dan akan dilanjutkan ke Weru, kemudian Dawuan, serta lokasi lainnya,” kata Suyanto.
Ia memastikan, penanganan sampah di Panguragan akan dilakukan secara bertahap sambil menunggu kondisi di TPA Gunungsantri kembali normal dan alat berat beroperasi maksimal.
Setelah dibersihkan, DLH akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan Forkopimcam setempat untuk mencegah penumpukan sampah liar terulang, termasuk kemungkinan pemasangan pagar atau spanduk peringatan di lokasi tersebut.
Suyanto mengimbau masyarakat agar memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di lokasi yang bukan merupakan TPS resmi.
“Ini bukan sepenuhnya salah desa. Bisa jadi sampah juga berasal dari masyarakat luar yang melintas. Penanganan sampah adalah tanggung jawab bersama, jangan saling menyalahkan,” tandasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















