Oleh: Mohamad Arifin
Pranata Humas Ahli Muda UIN Siber Cirebon
DI balik setiap berita yang terbit, setiap unggahan media sosial yang menjangkau publik luas, dan setiap narasi yang mampu meredam isu sensitif, ada kerja sunyi seorang Pranata Humas (Prahum).
Di lingkungan Humas UIN Siber Cirebon, peran itu terasa nyata—menjadi wajah, suara, sekaligus penjaga reputasi institusi di ruang publik.
Namun di balik kerja yang tampak dinamis dan kreatif tersebut, tersimpan satu pertanyaan mendasar: bagaimana masa depan profesi ini dijaga oleh sistem yang sama yang setiap hari mereka bela citranya?
Pertanyaan ini bukan retorika. Bagi banyak Prahum di instansi pemerintah, termasuk di Humas UIN Siber Cirebon, ia adalah realitas yang dihadapi dalam perjalanan karier.
Di era transformasi digital dan arus informasi yang bergerak cepat, humas bukan lagi sekadar dokumentator kegiatan. Ia telah berevolusi menjadi arsitek opini publik, pengelola komunikasi krisis, penggerak reputasi institusi, sekaligus analis persepsi masyarakat berbasis data. Peran ini menuntut ketangkasan teknis, kecermatan strategi, dan sensitivitas terhadap dinamika sosial.
Ironisnya, stigma lama masih kerap melekat: “kerjanya hanya foto-foto.”
Padahal di balik satu konten yang tampak sederhana, ada proses panjang yang sering luput dari perhatian: perencanaan strategi komunikasi, koordinasi lintas unit, pengolahan data informasi, manajemen risiko isu, hingga pemantauan respons publik secara real time. Inilah realitas kerja Humas UIN Siber Cirebon yang sesungguhnya—sunyi, namun strategis.
















