SUARA CIREBON – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) diharap segera menetapkan penambahan pasokan yang sangat dibutuhkan perusahaan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Pasalnya, saat ini stok batubara yang dimiliki sejumlah PLTU di Indonesia hanya sekitar 10 Hari Operasi Pembangkit (HOP).
Hal itu dikemukakan, Wakil Direktur Utama PT Cirebon Electric Power (Cirebon Power), Joseph Pangalila, saat acara buka puasa bersama, di salah satu hotel Kota Cirebon, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurut Joseph, hingga kini Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) belum mendapat tambahan suplai batubara untuk PLTU yang dipegang oleh Independent Power Producer (IPP).
Joseph menyebut penambahan pasokan belum diterima oleh IPP karena belum adanya komitmen dari supplier batubara yang biasanya ditetapkan melalui surat tertulis dari Kementerian ESDM.
“Supply batu bara ke pembangkit anggota APLSI masih belum bertambah. Kita juga belum dapat komitmen dari supplier mengenai adanya tambahan supply. Mungkin mereka masih menunggu penugasan secara tertulis,” ungkap Joseph.
Joseph mengatakan dalam standar PLTU dihitung berdasarkan Hari Operasi Pembangkit (HOP) selama 25 hari. Artinya, stok batu bara yang tersedia di area penyimpanan pembangkit aman untuk beroperasi selama 25 hari ke depan tanpa pengiriman batu bara baru.
“Sekarang ini sebetulnya sudah sangat kritis, karena kebanyakan pembangkit itu listriknya, ketersediaan batu baranya itu sudah di bawah 10 hari. Bahkan di Jawa-Bali yang ada 25 hari itu hanya 2 pembangkit. Jadi memang sudah sangat kritis,” ungkap dia


















