SUARA CIREBON – Ratusan warga dari berbagai daerah memadati kawasan Kompleks Makam Sunan Gunung Jati, di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, untuk mengikuti tradisi Grebeg Syawal, Sabtu, 28 Maret 2026 dan Minggu, 29 Maret 2026 pagi.
Grebeg Syawal merupakan rangkaian prosesi kegiatan ziarah keluarga Keraton Kesultanan Cirebon ke makam leluhur di antaranya, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakra Buana serta para sultan yang telah mangkat.
Sultan dan keluarga Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Grebeg Syawal setiap tanggal 8 Syawal (kalender Hijriah) bertepatan dengan hari raya kupat (ketupat), sementara Sultan dan keluarga Keraton Kasepuhan Cirebon melaksanakan Grebeg Syawal setiap tanggal 8 Syawal.
Dari sejak pagi hari, masyarakat tampak antusias memenuhi Kompleks Gunung Sembung untuk mengikuti dan menyaksikan kegiatan yang sarat nilai budaya dan religi tersebut.
Salah satu hal yang paling ditunggu masyarakat adalah dibukanya Lawang (pintu) Gede Pasujudan yang digunakan Sultan dan pihak keluarga untuk menaiki Kompleks Gunung Sembung menuju Makan Sunan Gunung Jati di puncak bukit.
Sementara warga yang meyaksikan turut melantunkan doa sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Selain Makan Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung, salah satu lokasi tujuan warga untuk melantunkan doa adalah Makam Syekh Maulana Dzatul Kahfi (Syekh Nurjati) yang berada di Gunung Jati.
Salah seorang warga Desa Kalitengah, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Riyan Bahtiar (30), mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk mengikuti tradisi tersebut.
















