SUARA CIREBON – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cirebon sudah menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Meskipun cakupannya belum maksimal karena belum seluruh sasaran terlayani secara menyeluruh, kolaborasi MBG dengan pemberian makanan tambahan (PMT) oleh Dinas Kesehatan, dinilai dapat mempercepat penanganan gizi anak-anak.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, dr Tety Rostianty, mengatakan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekalu pihak penyedia program MBG di Kabupaten Cirebon bukan hanya menyasar anak-anak sekolah, melainkan sudah menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Dinkes Kabupaten Cirebon telah menyepakati seluruh kelompok sasaran masuk dalam program MBG, baik yang sudah menerima PMT maupun yang belum.
“Semua sasaran, baik yang sudah mendapatkan PMT dari puskesmas maupun yang belum, harus menjadi bagian dari penerima manfaat MBG,” ujar Tety, Jumat, 1 Mei 2026.
Menurut Tety, selama ini PMT lebih difokuskan pada kelompok dengan masalah gizi, seperti ibu hamil dengan kondisi kurang energi kronis (KEK) serta balita dengan gizi kurang, stunting, atau gizi buruk. Sementara, program MBG bersifat lebih umum sebagai upaya pencegahan bagi seluruh kelompok sasaran.
Berdasarkan pemantauan posyandu per Februari 2026, angka stunting di Kabupaten Cirebon tercatat sebesar 8,18 persen atau 12.475 anak. Sementara wasting mencapai 6,01 persen (9.169 anak), underweight 11,05 persen (16.852 anak), serta gizi kurang pada anak usia pendidikan dasar sebesar 11,49 persen (21.700 anak).
Selain itu, angka anemia pada remaja putri mencapai 43 persen. Permasalahan tersebut salah satunya dipengaruhi pola konsumsi masyarakat yang belum memenuhi prinsip gizi seimbang, terutama rendahnya asupan protein hewani, sayur, dan buah.
Program MBG hadir sebagai upaya membentuk kebiasaan konsumsi makanan bergizi seimbang secara luas tanpa melihat status gizi. Saat ini, penerima manfaat MBG di Kabupaten Cirebon meliputi 5.554 ibu hamil, 40.294 balita, dan 12.826 ibu menyusui.
Sementara itu, intervensi khusus melalui PMT pemulihan diberikan bagi kelompok dengan masalah gizi, dengan durasi 14-28 hari untuk balita yang tidak naik berat badan, 56 hari untuk balita gizi kurang atau buruk, serta 120 hari bagi ibu hamil KEK.
“Selain itu, penanganan anak stunting dilakukan melalui program PKMK selama tiga bulan berdasarkan rekomendasi dokter spesialis anak,” paparnya.
Tety menambahkan, seluruh SPPG di Kabupaten Cirebon telah memberikan layanan meskipun belum sepenuhnya menjangkau semua sasaran. Menu yang disediakan juga disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing kelompok, mulai dari ibu hamil, balita, hingga anak sekolah, dengan besaran anggaran yang berbeda.
“Nilai gizi dan menu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Ibu hamil tentu berbeda dengan balita atau anak sekolah,” ucapnya.
Pemerintah berharap, sinergi antara program MBG dan PMT dapat mempercepat penanganan masalah gizi sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.

















