SUARA CIREBON – Upaya kreatif warga Desa Ciawigajah, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, dalam mengolah sampah patut diacungi jempol. Jika di banyak desa lainnya tumpukan sampah identik dengan bau menyengat, lingkungan kumuh, hingga memunculkan perdebatan tak berujung soal pihak yang mana bertanggung jawab, di Desa Ciawigajah, sampah justru menjadi titik awal dari sebuah ekosistem ekonomi.
Putaran sampah yang berasal dari limbah dapur warga, masuk ke mesin pengolah di TPS 3R, lalu berakhir sebagai pakan ternak yang dibutuhkan para peternak lokal. Pengolahan sampah di desa tersebut dilakukan dengan membangun jaringan dan kolaborasi lintas sektor yang diinisiasi oleh Kuwu Ciawigajah, Nunung Nurhadi.
Inisiatif pengelolaan yang tidak sekadar mengelola limbah ini disebut sebagai model pentahelix, yakni sinergi antara pemerintah desa, dunia akademis, pelaku usaha, dan komunitas antardesa. Keberadaan TPS 3R Ciawigajah Berkah ini layak disebut sebagai model. TPS 3R Ciawigajah Berkah bukan sekadar program, tapi prinsip dasarnya zero waste dalam arti sesungguhnya.
Di TPS tersebut, sampah yang masuk dipilah, diolah menjadi bubur organik, lalu diproses lebih lanjut menjadi pakan ternak. Rantai ini menciptakan nilai ekonomi yang sebelumnya tidak mampu mengubah beban sampah menjadi aset, dan mengubah masalah menjadi peluang. Dalam pengolahan sampah tersebut, tidak ada hal yang terbuang percuma.
Wakil Bupati (Wabup) Cirebon, H Agus Kurniawan Budiman mengapresiasi Pemdes Ciawigajah dan pengelola TPS 3R atas keberhasilan mereka mengubah persoalan sampah menjadi sumber manfaat bagi masyarakat.
“Ini merupakan contoh nyata pengelolaan lingkungan yang sejalan dengan peningkatan kesejahteraan warga melalui ekonomi sirkular,” ujar Wabup Agus Kurniawan, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia mengatakan, keberhasilan TPS 3R Ciawigajah menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang didukung manajemen yang baik dan kolaborasi berbagai pihak mampu menciptakan dampak positif bagi lingkungan maupun perekonomian daerah.
TPS 3R Ciawigajah mampu mengelola hingga 12 ton sampah per hari tanpa residu. Keberadaan TSP tersebut bahkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dengan upah sesuai UMR Kabupaten Cirebon.
“TPS 3R ini layak menjadi percontohan bagi desa-desa lain. Hal ini membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang baik dan kolaborasi yang kuat, sampah dapat menjadi potensi pembangunan daerah,” tegas Jigus sapaan akrabnya.
Kuwu Ciawigajah, Nunung Nurhadi mengatakan, masalah sampah di desanya terlalu besar untuk diselesaikan sendirian. Sejak awal menggagas program tersebut, pihaknya memang telah memilih jalan kolaborasi.
“Kita butuh kolaborasi atau pentahelix dengan pihak-pihak terkait,” ujar Nunung.
Inovasi Pemdes Ciawigajah ini tidak berhenti di batas wilayah desa. Melalui skema Memorandum of Understanding (MoU), sejumlah desa dari berbagai kecamatan kini secara rutin menyetorkan sampah mereka ke fasilitas pengolahan di Ciawigajah.
Beberapa di antaranya adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Greged, SPPG Beber, SPPG Halimpu Kamarang, hingga Desa Cibuntu dari Kabupaten Kuningan. Pola kemitraan ini dirancang agar semua pihak merasakan manfaat, dengan ketentuan yang disepakati bersama.
Saat ini, sejumlah desa dari Kecamatan Greged dan Kecamatan Sedong sedang dalam tahap penjajakan untuk bergabung dalam ekosistem pengelolaan sampah bersama Ciawigajah.
“Ada hal-hal yang saling sangat menguntungkan. Desa-desa yang bergabung bisa menyelesaikan masalah sampah mereka, sementara kami mendapat pasokan bahan baku yang cukup untuk diolah,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















