SUARA CIREBON – Rumah Kasiyati, warga Blok Karanganyar Wetan, Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber, bakal segera dibenahi. Percepatan perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) tersebut bakal dilakukan berasal dari Corporate Social Responsibility (CSR) para pengembang yang beroperasi di Kabupaten Cirebon.
Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Cirebon, Hilman Firmansyah mengatakan, pihaknya tengah menyusun berbagai skema percepatan agar pembangunan rumah Kasiyati, agar tidak perlu menunggu terlalu lama.
Menurut Hilman, salah satu langkah yang sedang ditempuh adalah mengupayakan dukungan dari program CSR para pengembang.
“Rumah Bu Kasiyati menjadi prioritas. Saat ini kami sedang memformulasikan penanganan yang paling cepat, salah satunya melalui dukungan CSR dari developer yang sedang kami upayakan. Selain menjajaki bantuan CSR, kami juga berkoordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Cirebon,” ujar Hilman, Kamis, 11 Juni 2026.
Langkah ini, menurut Hilman, dilakukan agar bantuan pembangunan rumah dapat segera direalisasikan tanpa harus menunggu APBD murni 2027. Pihaknya juga sedang berikhtiar dan berkoordinasi dengan Baznas agar penanganannya bisa lebih cepat.
“Di sisi lain, kami juga tengah menyiapkan opsi penganggaran melalui APBD Perubahan 2026. Dengan skema tersebut, pembangunan rumah Kasiyati berpeluang masuk dalam prioritas penanganan tahun ini,” katanya.
Hilman menambahkan, rumah Kasiyati bukan lagi masuk katagori rutilahu, tapi harus dibangun dari awal, yakni pembangunan rumah baru layak huni.
“Kalau rutilahu itu, anggaranya Rp20 juta. Namanya Peningkatan Kualitas (PK) layak huni. Sementara rumah Kasiyati harus dibangun dari awal mulai dari pondasi,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Bagunan rumah berdinding geribik bambu dengan lantai tanah yang berdiri Blok Karanganyar Wetan, Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber, itu tampak hampir roboh.
Dari luar, bangunan tersebut tampak rapuh. Beberapa bagian tampak miring dan hanya disangga batang bambu seadanya. Saat hujan datang, kondisi rumah khususnya lantai di dalam rumah berubah menjadi becek.
Di rumah yang lebih tepat disebut gubuk itu, tinggal Kasiyati (36) bersama suaminya, Suhadi (40), dan putra sulungnya. Keluarga Kasiyati telah tinggal di rumah itu dalam 15 tahun terakhir.
Meski jauh dari kata layak, rumah itu tetap menjadi tempat mereka berteduh dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Sebagai ibu rumah tangga, Kasiyati hanya bisa berharap kondisi rumahnya suatu saat dapat diperbaiki. Selama ini, kebutuhan keluarga bergantung pada penghasilan suaminya yang bekerja serabutan sebagai kuli bangunan atau pekerjaan apa saja.
“Kalau hujan, air masuk dari berbagai sisi. Maklum lantainya masih tanah, jadi becek karena masih tanah,” ujar Kasiyati saat ditemui di kediamannya, Selasa, 9 Juni 2026.
Kasiyati mengaku telah beberapa kali mengajukan bantuan perbaikan melalui program rumah tidak layak huni (rutilahu). Namun, hingga kini, bantuan yang diharapkan tak kunjung terralisasi.
“Jangankan bantuan perbaikan rumah, bantuan lainnya juga tidak pernah saya dapatkan,” katanya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















