SUARA CIREBON – Kondisi Pasar Palimanan terpantau kian makin sepi. Padahal bangunan pasarnya baru satu tahun yang lalu direnovasi. Usai direvitalisasi dengan anggaran lebih dari Rp15 miliar, Pasar Palimanan memiliki bangunan dua lantai dengan masing-masing lantai terdapat puluhan kios.
Meski bangunan pasar terlihat lebih megah dan tertata, pasar yang oleh masyarakat Cirebon disebut dengan Pasar Minggu Palimanan ini, malah terlihat makin sepi.
Ditengarai, revitalisasi bangunan pasar tradisional itulah yang mengubah segalanya. Banyak pedagang enggan untuk menempati kios khususnya lantai dua.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon, Suhartono mengakui, kondisi Pasar Palimanan makin sepi setelah dilakukan revitalisasi.
“Kondisi Pasar Palimanan saat ini jauh lebih sepi dibandingkan sebelum direvitalisasi. Aktivitas jual beli di kios, los maupun lapak pedagang mengalami penurunan cukup signifikan,” ujar Suhartono didampingi Kabid Sarana dan Pelaku Distribusi, Teguh Mulyono, kepada awak media, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Suhartono, salah satu pemicunya adalah faktor fisik bangunan pasar yang berubah menjadi dua lantai. Menurutnya, perubahan desain bangunan ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan karakter pasar tradisional.
“Pedagang yang sebelumnya berjualan di lantai dasar sempat ditempatkan di lantai dua. Namun, minimnya pengunjung membuat mereka memilih kembali turun ke bawah,” katanya.
Di sisi lain, dikatakan Suhartono jumlah pedagang aktif hingga saat ini terus mengalami penyusutan. Dari total 527 pedagang yang tercatat memiliki kios, los maupun lapak, hanya 302 pedagang yang masih aktif berjualan.
“Sebanyak 225 pedagang memilih menutup usahanya dan tidak lagi memanfaatkan tempat yang tersedia. Dibangunnya Pasar Palimanan dengan konsep lantai dua itu sudah melalui kajian, salah satunya adalah keterbatasan lahan, di satu sisi jumlah pedagang cukup banyak,” jelasnya.
Sementara, Lanjut Suhartono, ruang yang tersedia tidak mampu mengakomodasi seluruh pedagang dengan pola aktivitas pasar tradisional yang selama ini berjalan. Namun pihaknya tidak tinggal diam melihat kondisi itu.
“Berbagai upaya pun dilakukan agar pasar tersebut dapat kembali dimanfaatkan secara optimal dan mampu menarik minat pedagang maupun pembeli. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan Bulog, membuka kios pengendali inflasi di Pasar Palimanan,” jelasnya.
Kehadiran kios itu diharapkan Suhartono mampu meningkatkan kunjungan masyarakat sekaligus membantu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Selain itu, Disdagin juga tengah mengkaji sejumlah bentuk relaksasi bagi para pedagang agar mereka terdorong kembali menempati kios yang tersedia.
“Lesunya aktivitas pasar juga berdampak langsung terhadap penerimaan retribusi daerah. Hingga saat ini, realisasi retribusi Pasar Palimanan per Juli 2026, baru mencapai Rp237 juta atau sekitar 45,57 persen dari target tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp432 juta,” tandasnya.
Sementara itu, Kabid Sarana dan Pelaku Distribusi, Teguh Mulyono menyampaikan, sebanyak 35 toko emas yang selama ini menjadi ikon Pasar Palimanan justru memilih hengkang dan pindah menyewa ruko di seberang pasar.
“Padahal, beban retribusi di dalam pasar relatif lebih murah. Namun, lesunya kunjungan pembeli menjadi alasan utama pedagang memilih keluar,” imbuhnya.
Perlu diketahui, pedagang kios di Pasar Palimanan dikenakan retribusi sebesar Rp5.500 per hari. Di luar itu terdapat iuran kebersihan sebesar Rp2.000 per hari. ***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















