SUARA CIREBON – Suara musik gamelan terdengar mengalun indah dari panggung Museum Pangeran Cakrabuana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon. Nada-dana pentatonis tersebut, berasal dari Gamelan Renteng, salah satu kesenian tradisional di Kabupaten Cirebon yang hampir punah.
Penampilan Gamelan Renteng tersebut, merupakan salah satu upaya untuk menghidupkan kembali eksistensi instrumen seni musik kuno itu kepada generasi muda.
Upaya pelestarian seni tersebut salah satunya dilakukan oleh Sanggar Seni Gamelan Renteng Ki Muntili Desa Kedungsana, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.
Sekretaris Gamelan Renteng Ki Muntili, Ade Maulana, mengatakan, sejak tahun 2012 silam, Sanggar Seni Gamelan Renteng Ki Muntili melakukan revitalisasi dengan melibatkan para nayaga dari berbagai generasi.
“Revitalisasi ini tidak hanya melibatkan orang tua yang menjadi penjaga tradisi, tetapi juga anak-anak, remaja, hingga kaum muda. Mereka mulai belajar memainkan gamelan yang sarat nilai sejarah ini di tengah gempuran budaya modern,” kata Ade Maulana, Senin, 29 Juni 2026.
Menurut Ade, upaya tersebut berhasil mencuri minat generasi muda desa setempat. Ketertarikan generasi muda terhadap Gamelan Renteng tidak semata-mata karena keindahan bunyinya. Mereka, lanjut Adem juga tertarik mempelajari filosofi, sejarah, keunikan, serta kelangkaan gamelan yang menjadi bagian dari identitas budaya Cirebon.
Proses belajar pun tidak hanya berfokus pada teknik memainkan alat musik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Ketertarikan generasi muda kepada gamelan ini dari filosofi-filosofinya, dari keunikannya, dari kelangkaannya, dan dari sejarahnya. Jadi selain belajar gamelan, mereka belajar sejarahnya juga,” ujarnya.
Namun, upaya pelestarian Gamelan Renteng bukannya tanpa tantangan. Minimnya literatur mengenai Gamelan Renteng menjadi salah satu kendala yang dihadapi sanggar seni tersebut. Selain itu, dokumentasi lagu yang terbatas, ditambah tingkat kesulitan yang cukup tinggi, membuat proses pembelajaran membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
Jika dibandingkan gamelan pada umumnya, Gamelan Renteng memiliki struktur permainan yang lebih rumit sehingga membutuhkan latihan yang intensif. Bagi pemain pemula, menguasai satu lagu dapat memerlukan waktu antara satu hingga tiga bulan, tergantung tingkat kesulitannya.
“Untuk pemula, belajar 1 bulan sampai 3 bulan paling baru bisa 1 lagu, tergantung kesulitannya. Lagu pertama mudah paling sebulan, lagu kedua, ketiga, mungkin 2 bulan sampai 3 bulan baru bisa,” kata Ade.
Nama Gamelan Renteng sendiri berasal dari susunan bonang yang berderet atau berenteng. Ciri khas inilah yang kemudian menjadi identitas alat musik tradisional tersebut.
Melalui regenerasi para pemain dan semangat pelestarian yang terus dijaga, Sanggar Seni Gong Renteng Emundilah berharap Gamelan Renteng tidak hanya bertahan sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga tetap hidup sebagai warisan budaya yang dikenal dan dimainkan oleh generasi mendatang.
Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cirebon pun terus mendorong pelestarian Gamelan Renteng yang keberadaannya semakin langka. Upaya tersebut dilakukan melalui revitalisasi, sosialisasi, hingga program pembelajaran seni di sekolah sebagai bagian dari regenerasi pelaku budaya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, mengatakan, Gamelan Renteng merupakan salah satu warisan budaya yang hampir punah akibat regenerasi pemain yang terlambat.
“Pemerintah hadir dengan terus menampilkan, menyosialisasikan, dan mengkaji kesenian ini agar tidak punah,” kata Fajar.
Menurut Fajar, saat ini terdapat lebih dari 20 kelompok Gamelan Renteng di Kabupaten Cirebon. Beberapa di antaranya berada di Desa Kedungsana, Gamel, Buyut, dan Desa Suranenggala.
Sebagai langkah pelestarian, Disbudpar Kabupaten Cirebon pada 2026 juga akan menggelar program Seniman Masuk Sekolah. Program tersebut menghadirkan para seniman ke sekolah-sekolah untuk memberikan pembelajaran seni dan budaya kepada para siswa melalui kegiatan yang menyerupai ekstrakurikuler.
“Harapannya muncul ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisional,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















