SUARA CIREBON – Di tengah hamparan persawahan Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, terbentang jalan cor yang kini memudahkan aktivitas warga. Tak banyak yang tahu, jalan sepanjang sekitar satu kilometer itu dibangun bukan dari anggaran pemerintah, melainkan dari dana pribadi seorang warga setempat, bernama Haji Aas (42).
Pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar (SD) itu memilih menyisihkan sebagian hasil usahanya untuk memperbaiki fasilitas umum (fasum) yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan masyarakat.
Aas mengaku tidak pernah memiliki niat mencari popularitas atau pun keuntungan politik dari apa yang dilakukannya. Ia berharap, saat di masa mendatang ada generasi muda yang sukses, agar selalu ingat untuk membangun desa masing-masing.
”Saya hanya ingin membantu masyarakat sekaligus memberikan contoh kepada generasi muda, agar mau berbagi ketika diberi rezeki lebih. Kalau ada yang sukses jadi pengusaha atau apa pun, mudah-mudahan bisa bermanfaat juga untuk masyarakat,” ujar Aas kepada Suara Cirebon, Rabu, 1 Juli 2026.
Jalan yang diperbaiki tersebut berada di wilayah Dusun Kaligandu, RT 02 RW 02, Desa Sampiran. Akses jalan itu sebelumnya dalam kondisi rusak dan sulit dilalui kendaraan, terutama ketika dua mobil harus berpapasan.
”Kurang lebih panjangnya sekitar satu kilometer. Dulu jalannya jelek, bahkan mobil untuk berpapasan saja susah, makanya ingin memperbaiki supaya masyarakat lebih nyaman,” ucapnya.
Anggaran untuk perbaikan jalan tersebut merupakan dana pribadi. Begitu pun untuk memperlebar jembatan yang berada di jalur yang sama. Sebelumnya, jembatan tersebut terlalu sempit sehingga sering menyulitkan kendaraan yang melintas.
”Jembatan itu tadinya sempit, saya lebarkan supaya kalau ada mobil lewat tidak macet dan bisa lebih lancar,” katanya.
Menurut Aas, sebagian besar pekerjaan pembangunan dilakukan oleh para karyawannya. Meski demikian, sejumlah warga juga ikut membantu secara sukarela.
”Yang kerja memang kebanyakan karyawan saya, tapi ada juga warga yang ikut membantu bersih-bersih atau membantu pekerjaan ringan. Intinya saya ingin mengajak masyarakat bersama-sama peduli,” katanya.
Aas menyebut, jika ditotal dana yang telah dikeluarkan untuk memperbaiki jembatan tersebut mencapai ratusan juta rupiah.
“Alhamdulillah kegiatan perbaikan jalan maupun fasilitas umum lainnya mendapat dukungan penuh dari keluarga. Ini sekaligus sebagai contoh kepada anak-anak kalau nanti mereka sukses, mudah-mudahan bisa membantu tetangga, saudara, dan masyarakat. Jangan hanya untuk kepentingan pribadi,” ucapnya.
Ia menuturkan, uang yang digunakan merupakan hasil dari keuntungan usaha pakan ternak. Ia merintis usaha pakan ternak dari sejak sekitar tahun 2009.
“Awalnya saya memulai usaha di rumah. Itu tahun 2009-an. Alhamdulillah tahun 2017 bisa membangun gudang sendiri yang kini memasok bahan baku pakan ternak ke berbagai daerah di Pulau Jawa hingga luar Jawa,” katanya.
Setiap harinya dari usaha tersebut mampu mengirim 20 hingga 30 ton bahan baku pakan ternak berupa olahan sisa makanan ringan seperti roti, biskuit, wafer dan makanan ringan lainnya.
”Alhamdulillah sekarang ada sekitar 30 pekerja laki-laki dan hampir 20 ibu-ibu yang ikut bekerja. Jadi selain usaha berjalan, saya juga bersyukur bisa membantu membuka lapangan pekerjaan,” jelasnya.
Seluruh rezeki yang diperolehnya bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri, karena sadar bahwa harta yang dimiliki akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk membantu sesama.
”Saya ini hanya ingin membantu tidak ada niat apa-apa. Selagi ada rezeki dan ada yang perlu diperbaiki untuk masyarakat, insyaallah saya bantu,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















