SUARA CIREBON – Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Cirebon memasukkan perbaikan jaringan irigasi Jatisawit menuju Desa Kalisapu, Kecamatan Gunung Jati, sebagai prioritas penanganan pada tahun 2026.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kabupaten Cirebon, Bambang Afrianto, mengatakan, perbaikan tersebut sebagai respons keluhan petani Desa Kalisapu perihal terganggunya aliran irigasi hingga menyebabkan 95 hektare sawah mengering.
Menurut Bambang, jaringan irigasi di wilayah tersebut masuk dalam Daerah Irigasi (DI) Jatisawit yang akan segera dilakukan melalui dukungan anggaran APBD Kabupaten Cirebon serta program Instruksi Presiden (Inpres) dari pemerintah pusat.
Bambang menjelaskan, Desa Kalisapu merupakan bagian dari jaringan DI Jatisawit yang mengairi sejumlah wilayah, mulai dari Desa Babadan, Buyut, Grogol, Kalisapu, Mayung, Susukan Wetan hingga Desa Gesik.
Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan langkah normalisasi saluran untuk mengoptimalkan kembali distribusi air, terutama ke wilayah hilir yang selama ini mengalami kesulitan mendapatkan pasokan.
“Tahun 2026 memang ada kegiatan normalisasi di DI Jatisawit. Anggarannya dari APBD Kabupaten Cirebon, dan ada juga dari anggaran pusat melalui Inpres,” ujar Bambang, Jumat, 10 Juli 2026.
Perbaikan DI Jatisawit ini diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan yang dialami para petani di wilayah tersebut.
Bambang menjelaskan, persoalan kekeringan di wilayah tersebut tidak hanya disebabkan oleh kondisi saluran irigasi. Penurunan debit air dari wilayah hulu juga menjadi faktor utama yang menyebabkan pasokan air tidak mampu menjangkau seluruh area persawahan.
Sebelumnya, pemerintah telah mengatur pola tanam melalui Komisi Irigasi (Komir). Surat Keputusan (SK) Bupati mengatur musim tanam kedua petani dengan menanam padi maksimal 35 persen dari total lahan. Sementara sisanya diarahkan untuk tanaman palawija.
Namun, petani di DI Jatisawit masih banyak yang menanam padi melewati batas maksimal, sehingga banyak yang mengalami kegagalan.
“Debit air memang mengalami penurunan. Makanya sudah ada kesepakatan Komir, untuk MT kedua hanya 35 persen padi, sedangkan 60 sampai 65 persen seharusnya palawija,” tegasnya.
Menurut Bambang, Pemkab Cirebon sebenarnya telah melakukan pemeliharaan saluran irigasi pada 2025 melalui kegiatan pengurasan. Namun diakuinya, penanganan belum mampu menjangkau seluruh jaringan hingga wilayah hilir akibat keterbatasan anggaran.
Ia memperkirakan pekerjaan normalisasi mulai berjalan sekitar Agustus hingga September 2026. Sementara untuk program Inpres, pelaksanaannya akan dilakukan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung.
Bambang menambahkan, penanganan irigasi menjadi perhatian utama pemerintah daerah seiring telah ditetapkannya Status Siaga Darurat Kekeringan Kabupaten Cirebon mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.
“Ini menjadi prioritas karena sekarang menghadapi musim kemarau dan dampak El Nino. Kami berusaha maksimal agar aliran air bisa sampai ke wilayah hilir,” tegasnya.
Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melakukan koordinasi bersama kelompok tani untuk membahas pengelolaan jaringan irigasi serta penyesuaian pola tanam agar persoalan kekeringan tidak terus berulang.
Selain normalisasi, Dinas PUTR juga akan melakukan pembersihan sampah dan gulma yang menghambat aliran air di jaringan irigasi.
“Melalui UPT di masing-masing wilayah nanti akan dilakukan pembersihan sampah maupun gulma di saluran irigasi,” tandasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Desa Kalisapu mengeluhkan kondisi 95 hektare lahan pertanian yang mengalami kekeringan akibat air dari jaringan irigasi Jatisawit tidak lagi mengalir hingga wilayah tersebut.
Kuwu Kalisapu, Suhana, mengatakan kondisi tersebut membuat petani hanya mampu melakukan satu kali panen dalam setahun. Padahal, masyarakat berharap dapat meningkatkan produksi hingga dua kali musim tanam.
“Irigasi sebenarnya ada, tetapi air tidak sampai. Dulu sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an air masih melimpah, namun sejak tahun 2000-an mulai terhambat,” ujar Suhana.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.















