SUARA CIREBON – Kekeringan di Cirebon. Dua desa di Kabupaten Cirebon telah mengajukan permohonan bantuan air bersih pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sebagian warga di dua desa tersebut, mengalami kekeringan dan krisis air bersih akibat musim kemarau yang mulai memasuki fase puncak.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, mengatakan, penyaluran bantuan akan dilakukan setelah ada hasil pemantauan lapangan dan permohonan resmi dari pemerintah desa maupun kecamatan. Hal itu karena terkendala keterbatasan armada dan personel yang dimiliki.
“Saat ini, BPBD telah menerima permohonan bantuan air bersih dari Desa Selangit, Kecamatan Klangenan, dan Desa Sampiran Kecamatan Talun. Dua desa tersebut, menjadi daerah pertama yang melaporkan mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih, pada musim kemarau tahun ini,” kata Syamsul Huda, Rabu, 29 Juli 2026.
Menurut Syamsul, BPBD terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan agar penanganan kekeringan dapat dilakukan lebih cepat.
“Selain menyiapkan distribusi air bersih, pemerintah daerah juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan yang rawan terjadi selama musim kemarau,” katanya.
Terkait hal itu, lanjut Syamsul, BPBD telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan krisis air bersih selama musim kemarau 2026. Langkah tersebut sebagai tindak lanjut penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan serta Lahan (Karhutla) yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Cirebon.
“Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla ini berlaku hingga 30 September 2026. Ini sesuai prediksi BMKG bahawa puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026,” ujarnya.
Syamsul mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi tiga tahun terakhir terdapat delapan desa di lima kecamatan yang menjadi prioritas pemantauan karena berulang kali mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.
“Wilayah tersebut meliputi Desa Cupang dan Walahar di Kecamatan Gempol, Desa Greged, Desa Winduhaji di Kecamatan Sedong, Desa Mundu Mesigit, Desa Banjarwangunan, Desa Pamengkang di Kecamatan Mundu, serta Desa Selangit di Kecamatan Klangenan,” bebernya.
Dalam kesempatan itu, Syamsul mengingatkan masyarakat agar tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi kering seperti semak belukar, lahan kosong, maupun kawasan hutan.
Menurut Syamsul, puntung rokok yang masih menyala dapat menjadi pemicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terlebih saat kondisi lingkungan mengalami kekeringan.
Selain itu, ia juga meminta masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah secara sembarangan. Aktivitas tersebut dinilai tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran lahan dan permukiman, tetapi juga dapat memperburuk kualitas udara.
“Kesadaran dan kepedulian masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah terjadinya bencana. Langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat mencegah dampak besar di kemudian hari,” tandas Syamsul. ***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















